Arsip Blog

Daftar Kontradiksi Qur’an Bagian III

Daftar Kontradiksi Qur’an – Bagian III
Silakan periksa ayat² Qur’an versi bahasa Inggris di SINI.
Juga versi bahasa Indonesia di SINI.

Sura 5: al-Maeda (Meja)

Q 5:5 menyatakan bahwa makanan bagi orang² ahli Kitab adalah halal bagi Muslim dan begitu pula sebaliknya. Halal pula bagi pria Muslim untuk menikahi Muslimah dan wanita ahli Kitab (yakni orang² Yahudi dan Kristen).
Q 5:5
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.

Kontradiksi:
Q 2:221 menyatakan Muslim tidak boleh menikahi wanita² kafir atau musyrik.
Q 2:221
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

Kontradiksi:
Q 9:30 menyatakan bahwa orang² Yahudi dan Kristen adalah kafir.
Q 9:30
Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
——————–
Read the rest of this entry

Daftar Kontradiksi Qur’an Bagian II

Daftar Kontradiksi Qur’an – Bagian II
Oleh Abul Kasem
January 8, 2009

Catatan bagi pembaca:
Di bagian I aku menulis bahwa Q 2:51 dan Q 7:142 berkontradiksi. Akan tetapi, Qur’an menyatakan di kedua ayat bahwa Musa bertemu dengan Allâh dalam waktu 40 malam. Q 2:51 jelas menyatakan 40 malam. Yusuf Ali menerjemahkan Q 7:142 sebagai berikut (untuk adilnya, jangan hiraukan tambahan kata dari Yusuf Ali di dalam tanda kurung):

Q 7:142
YUSUF ALI: We appointed for Moses thirty nights, and completed (the period) with ten (more): thus was completed the term (of communion) with his Lord, forty nights. And Moses had charged his brother Aaron (before he went up): “Act for me amongst my people: Do right, and follow not the way of those who do mischief.”
terjemahan:
YUSUF ALI: Kami bertemu Musa selama 30 hari, dan menyelesaikan (masa tersebut) dengan 10 (hari lagi): jadi lengkaplah (pertemuannya) dengan Tuhannya, 40 malam. Dan Musa telah memerintahkan saudaranya Harun (sebelum dia berangkat): “Lakukanlah demi aku diantara masyarakatku: Berbuatlah yang baik, dan jangan mengkuti jalan orang² sesat.”

Ibn Kathir [http://www.qtafsir.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1115&Itemid=62] menjelaskan ketidakjelasan ini sebagai berikut:
‘Allâh mengingatkan Bani Israel akan bimbingan yang telah Dia kirim melalui bicara langsung dengan Musa dan menyampaikan Taurat padanya. Di dalam Taurat, terdapat hukum dan rincian penerapannya. Allâh menyatakan di sini bahwa Dia menentukan 30 malam bagi Muslim. Para ahli Tafsir berkata bahwa Musa puasa dalam jangka waktu tersebut, dan setelah selesai, Musa membersihkan giginya dengan ranting. Allâh memerintahkannya untuk menyelesaikan jangka pertemua dengan menambah 10 hari lagi, sehingga jumlah total adalah 40 hari. Setelah masa pertemuan berakhir, Masa hendak kembali ke Gunung Tur.’

Penjelasan ini membingungkan. Apakah Allâh memerintahkan Musa untuk puasa di seluruh malam pertemuan (jumlah total 40 malam) dan bertemu dengan Allâh di siang hari (jumlah total 40 hari). Kedua kemungkinan bisa terjadi. Aku pilih kemungkinan pertama: yakni Musa puasa sepanjang hari dan bertemu Allâh di malam hari. Akan tetapi tampaknya tafsir Ibn Kathir kurang tepat jika kita melihat ayat versi Arabnya. Aku mohon maaf atas kebingungan ini yang disebabkan tafsir Ibn Kathir.

Read the rest of this entry

Daftar Kontradiksi Qur’an

Daftar Kontradiksi Qur’an – Bagian I
by Abul Kasem
05 Jan, 2009

Pendahuluan

Tulisan ini adalah kumpulan ayat² yang bertentangan (kontradiksi) arti dalam kitab suci Islam yakni Qur’an. Muslim menganggap Qur’an sebagai kata² Allâh yang tanpa cela, bebas dari segala hal yang bertentangan makna, arti yang membingungkan, kesalahan, dan segala hal yang tak masuk akal. Kumpulan data di tulisan ini akan menunjukkan bahwa selain jauh dari sempurna, bebas dari kesalahan dan kekacauan, Qur’an juga mengandung ratusan pernyataan yang saling bertentangan. Jumlahnya begitu banyak sehingga akan membuat pembaca kritis Qur’an terkejut. Sungguh sukar dipercaya bahwa Allâh yang katanya maha sempurna, maha kuasa, maha tahu, dan maha besar ternyata begitu cacat mental sehingga mampu membuat begitu banyak kontradiksi.

Ayat² Qur’an diambil dari terjemahan bahasa Inggris yang ditulis oleh Yusuf Ali, Picthal, and Shakir, atau terjemahan oleh Hilali and Khan dan juga Qur’an bahasa Indonesia dari Kerajaan Saudi Arabia (http://quran.al-islam.com/ind/).

Banyak kontradiksi ayat² Qur’an yang diulang-ulang; karena sifat pengulangan keterangan yang sarat dalam Qur’an. Bahkan satu ayat Qur’an saja bisa mengandung beberapa kontradiksi.

Mohon dipahami bahwa data kontradiksi ini bukan untuk mengungkapkan kesalahan, kekonyolan dan irasionalitas Qur’an dalam berbagai hal seperti sains, matematika, astronomi, sejarah, embriologi, geologi, dan kosmologi. Semua hal tersebut merupakan topik yang sangat luas dan dibutuhkan penyelidikan lain untuk membahas hal tersebut satu per satu.

Daftar ini tidak sempurna karena kemungkinan masih banyak kontradiksi ayat² Qur’an lainnya yang belum disebut. Penulis akan menghargai masukan dari pembaca tentang kontradiksi ayat Qur’an lainnya yang belum termasuk dalam seri tulisan ini. Penulis akan memasukkan data baru tersebut agar seri tulisan ini semakin lengkap.

Sura 2: al-Baqara (Sang Sapi)

Q 2:21 menyatakan Allâh menciptakan manusia agar menyembahNya.
Q 2:21
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.

Kontradiksi:
Q 3:97, 35:15 mengatakan Allâh tidak butuh manusia atau jin; Dia tidak butuh apapun.
Q 3:97
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allâh, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Q 35:15
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allâh; dan Allâh Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
——————–
Read the rest of this entry

Kesalahan Tatabahasa yang Luarbiasa dalam Qur’an

Kesalahan Tatabahasa yang Luarbiasa dalam Qur’an
Oleh Mumin Salih
26 Sep, 2008

Menteri Propaganda Nazi di bawah pimpinan Hitler yang bernama Joseph Goebbels pernah berkata:
“Suatu kebohongan, jika dinyatakan berulang-kali, akhirnya akan dipercayai sebagai kebenaran.”
Dia juga menyatakan bahwa semakin besar bohongnya, semakin mudah pula orang percaya akan kebohongan itu. Umat Muslim membuktikan kebenaran teori tentang kebohongan ini, dengan hasil yang cukup baik, bahkan berabad-abad sebelum menteri Nazi Hitler mengungkapkannya.

Salah satu kebohongan Islam yang besar adalah pernyataan bahwa Qur’an mengandung tatabahasa yang superior. Muslim percaya sekali akan kebohongan ini meskipun setiap Sura dalam Qur’an mengandung cukup banyak berbagai kesalahan yang akan membuat buku apapun tidak layak untuk diterbitkan. Selain kesalahan puluhan tatabahasa, Qur’an juga sangat kacau dan tidak jelas dalam menyampaikan pesan pada para pembaca.

Quran dan Tatabahasa Arab

Aku telah mengikuti beberapa debat2 di Internet tentang kesalahan tatabahasa Arab di Qur’an. Aku kaget tatkala mengetahui banyak orang Arab yang percaya bahwa aturan tatabahasa Arab itu berdasarkan pada Qur’an. Pengertian salah inilah yang mereka gunakan untuk membenarkan kesalahan tatabahasa Qur’an yang sangat jelas. Bahasa Arab memiliki tatabahasa dan aturannya sendiri, jauh sebelum Islam ada. Karena itulah saat ini kita punya literatur Arab pra-Islam yang masih dianggap sebagai salah satu literatur terbaik yang dimiliki masyarakat Arab. Kenyataan bahwa aturan tatabahasa Arab disusun dalam buku2 beberapa puluh tahun setelah kematian Muhammad bukanlah merupakan bukti bahwa tatabahasa Arab itu tidak ada sebelum jaman Islam. Semua puisi2 dan literatur Arab pra-Islam mengikuti aturan tatabahasa yang telah disepakati, meskpun belum tertulis. Saat itu, kebiasaan menulis merupakan kebiasaan baru di Arabia, dan buku2 formal belum banyak dibuat. Bahkan Qur’an pun baru disusun menjadi satu buku beberapa dekade setelah Muhammad meninggal.

Umumnya orang2 menyetujui bahwa Sibawayh (760-793) adalah orang pertama yang menyusun aturan tatabahasa Arab dalam satu buku, dan ini diterbitkan lama setelah kematian Muhammad. Buku2 lain yang dikarang penulis2 lain, kemudian mulai terbit pula. Para ahli bahasa Arab hanya berpedoman pada puisi dan literatur pra-Islam dan juga Qur’an untuk mengetahui aturan tatabahasa yang secara tradisional diterapkan di Arabia. Akan tetapi, tatabahasa dalam Qur’an menjadi dilema bagi para ahli tersebut, karena meskipun tulisan2 Qur’an umumnya mengikuti aturan tatabahasa yang benar, tapi seringkali keluar dari aturan tersebut. Para ahli menghadapi pilihan yang sukar karena Qur’an dianggap sebagai kata2 Allâh SWT yang sempurna tanpa salah, tapi kenyataannya kok banyak salahnya? Karena itu, akhirnya mereka mengambil keputusan bahwa Qur’an adalah pengecualian saja.

Tiada buku lain yang mendapat status khusus pengecualian itu selain Qur’an. Pokoknya semua kesalahan tatabahasa Qur’an dimaafkan saja. Dengan pemikiran yang diputarbalik seperti itu, tentunya pembaca Qur’an berharap tidak akan lagi menghadapi kesalahan tatabahasa lagi yang jadi masalah, tapi ternyata tidak begitu. Qur’an masih saja mengandung kesalahan serius yang tidak dapat diterima, tidak peduli bagaiamanapun caranya para ahli menjungkirbalikkan aturan. Dengan kata lain, sebagian dari Qur’an isinya salah, berdasarkan penjelasan dari bagian Qur’an yang lain!

Terdapat puluhan kesalahan tatabahasa dalam Qur’an, tapi tidak mudah untuk menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa Arab sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Untungnya, aku mendapatkan dua contoh ayat Qur’an yang kuharap mudah dijelaskan pada para pembaca yang tak mengerti bahasa Arab.

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.