Ide-ide yang mempengaruhi Muhammad


Ide-ide yang mempengaruhi Muhammad

Ide menjadi rasul bagi orang Quraish

Ide ini berasal dari:
1) Khadijah
2) Waraqa

Pada mulanya, tidak ada keinginan dalam diri Muhammad menjadi rasul. Keinginan itu kemudian muncul dari ide-ide yang dilontarkan oleh Khadijah dan Waraqa, sebagaimana ditulis oleh sejarawan Islam tertua berikut ini.

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 198

      Kemudian Jibril pergi dari hadapanku, dan aku pulang menemui keluargaku. Ketika aku bertemu Khadijah, aku duduk di pahanya, dan bersandar padanya. Khadijah berkata, `Hai Abu Al-Qasim, di mana engkau berada? Sungguh, aku telah mengutus orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka tiba di Makkah atas, kemudian pulang tanpa membawa hasil.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, `Kemudian aku ceritakan kepada Khadijah kejadian yang baru aku alami. Khadijah berkata, `Saudara misanku, bergembiralah, dan tegarlah. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di Tangan-Nya, sungguh

aku berharap kiranya engkau menjadi Nabi untuk umat ini’

    .”

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 199

      Usai melakukan penyendirian di Gua Hira’, Rasulullah SAW melakukan aktifitas-aktifitas yang biasa beliau lakukan. Beliau pergi ke Ka’bah, dan thawaf di sekitarnya. Ketika beliau sedang thawaf, beliau bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Waraqah bin Naufal berkata kepada beliau, `Keponakanku, ceritakan kepadaku apa yang telah engkau lihat dan engkau dengar!’ Rasulullah SAW menceritakan apa yang beliau lihat dan dengar kepada Waraqah bin Naufal. Waraqah bin Naufal berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya,

sungguh engkau adalah Nabi untuk umat ini

    . Sungguh telah datang kepadamu Malaikat Jibril yang dulu pernah datang kepada Musa. Sungguh, engkau pasti akan didustakan, diganggu, diusir, dan diperangi. Seandainya aku berada pada hari itu, pasti aku menolong Allah dengan pertolongan yang diketahui-Nya.’ Kemudian Waraqah bin Naufal mendekatkan kepalanya kepada Rasulullah SAW dan mencium ubun-ubun beliau. Setelah itu, Rasulullah SAW pulang ke rumahnya.”

Jadi jelaslah sudah, bahwa kedua orang di atas (Khadijah dan Waraqa) memiliki peran penting dalam mempengaruhi Muhammad, sehingga dalam benak Muhammad timbul keinginan menjadi rasul bagi orang Arab Quraish.

Ide menjadi mesias bagi orang Yahudi

Ide ini berasal dari orang-orang Anshar

Pada mulanya, tidak ada keinginan dalam diri Muhammad menjadi nabi bagi orang Yahudi, yaitu mesias/nabi yang dijanjikan. Orang-orang Anshar-lah yang menanamkan ide tersebut ke dalam diri Muhammad, sehingga kemudian dia ingin menjadi nabi bagi orang Yahudi pula.

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 389

      Ketika Rasulullah SAW berbicara dengan orang-orang Al-Khazraj tersebut dan mengajak mereka kepada Islam, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Hai kaumku, ketahuilah, demi Allah,

sesungguhnya inilah nabi yang dijanjikan orang-orang Yahudi kepada kalian

    . Oleh karena itu, kalian jangan kalah cepat kepadanya dari orang-orang Yahudi.”

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 176

      Kami adalah orang-orang musyirikin, dan penyembah patung-patung, sedang mereka (Yahudi) adalah ahli kitab. Mereka mempunyai ilmu yang tidak kami ketahui. Konflik terus meledak di antara kami dengan mereka. Jika kami mendapatkan dari mereka apa yang tidak disukai, mereka berkata kepada kami: ‘

Sesungguhnya sekarang telah dekat kemunculan seorang nabi

    . Kelak bersama nabi tersebut, kami akan membunuh kalian seperti pembunuhan terhadap Ad dan Iram.”

 
Jadi jelaslah sudah, bahwa orang-orang Anshar itu telah membangun ide baru ke dalam pikiran Muhammad, bahwa dia bukan hanya rasul bagi orang-orang Arab, tapi juga “mesias” yang dinanti-nantikan umat Yahudi.

Bersambung…

 

Ide memerangi kafir

Ide ini berasal dari orang-orang Anshar.

Semula sewaktu di Mekkah, sebelum Muhammad bertemu (bergaul) dengan orang-orang Anshar Medinah, belum ada terpikir dalam benaknya bahwa dia perlu memakai cara kekerasan untuk membuat sukses cita-citanya menjadi nabi. Orang-orang Anshar yang merupakan golongan tersisih di kota Medinah, kaum marjinal yang kerap melakukan tindakan kriminal dan melakukan penjarahan terhadap warga kelas atas (Yahudi), mulai menanamkan ide baru kepada Muhammad: Bila kau ingin sukses diakui nabi, gunakan cara kekerasan. Hanya lewat perang-lah, cita-cita menjadi “PEMIMPIN UMAT MANUSIA” akan tercapai.

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 401

 

Teks Baiat Yang Diambil Rasulullah SAW dari Kaum Anshar

      Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbicara. Beliau membaca Al-Qur’an, mengajak mereka kepada agama Allah dan mengharapkan keislaman mereka. Setelah itu, beliau bersabda, `Aku membait kalian agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi anak-istri kalian.’ Al-Barra’ bin Ma’rur memegang tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal-lam kemudian ia berkata, `Ya, demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, kami pasti melindungimu sebagaimana kami melindungi anak istri kami. Baiatlah kami wahai Rasulullah!

Demi Allah, kami ahli perang dan ahli senjata.

      Itu kami wariskan dari satu generasi kepada generasi lainnya.’ Ketika Al-Barra’ bin Ma’rur sedang berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ucapannya dipotong Abu Al-Haitsam bin At-Tayyahan. Abu Al-Haitsam bin At-Tayyahan berkata, `Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita mempunyai hubungan dengan orang-orang (orang-orang Yahudi) dan kami akan memutusnya. Jika kami telah melakukannya, kemudian Allah memenangkanmu, maka apakah engkau akan pulang kepada kaummu dan meninggalkan kami?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum, kemudian beliau bersabda, `Tidak. Darah (kalian) ialah darah(ku). Kehormatan (kalian) adalah kehormatan(ku). Aku bagian dari kalian dan kalian bagian dari diriku.

Aku memerangi siapa saja yang kalian perangi dan berdamai dengan orang-orang yang kalian berdamai dengannya

      .’

 

    Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, `Pilih untukku dua belas naqib (pemimpin) agar mereka menjadi pemimpin bagi kaumnya.’ Mereka memilih dua belas naqib dari mereka; sembilan dari Al-Khazraj dan tiga dari Al-Aus.”

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 404

Perkataan Al-Abbas bin Ubadah pada Malam Al-Aqabah

      Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa ketika kaum Anshar berkumpul untuk membaiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah Al-Anshari, saudara Bani Salim bin Auf berkata, “Hai orang-orang Al-Khazra, tahukah kalian, untuk apa kalian membaiat orang ini?” Mereka menjawab “Ya, kami tabu.” Al-Abbas bin Ubadah berkata,

“Sesungguhnya kalian membait orang ini untuk memerangi orang-orang berkulit merah dan orang-orang berkulit hitam.

    Jika harta kalian yang habis itu kalian anggap sebagai musibah dan meninggalnya pemimpin-pemimpin kalian itu kalian anggap sebagai pembunuhan, maka menyerahlah kalian sejak sekarang. Demi Allah, jika kalian melakukan hal yang demikian, itulah kehinaan di dunia dan akhirat. Jika kalian yakin bahwa kalian memenuhi apa yang ia serukan kepada kalian, kendati hal tersebut mengurangi harta kalian dan menewaskan orang-orang terhormat kalian, ambillah dia. Demi Allah, itu kebaikan di dunia dan akhirat.” Mereka berkata, “Kami mengambilnya kendati hal ini mengurangi harta kami dan menewaskan orang-orang tehormat kami. Jika karena melakukan hal tersebut, kami mendapatkan apa wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “Surga.” Mereka berkata, “Ulurkan tanganmu!” Rasulullah SAW mengulurkan tangannya kemudian mereka membaiat beliau. Ashim bin Umar bin Qatadah berkata “Demi Allah, Al-Abbas berkata seperti itu untuk menguatkan rantai Rasulullah SAW di leher mereka.”

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 405

      Ka’ab bin Malik berkata, “Setelah kami membaiat Rasulullah Shallallahu a!aihi wa Sallam, syetan menjerit dari atas Al-Aqabah dengan teriakan keras yang bisa aku dengar, `Hai penduduk Al-Jabajib, ketahuilah bahwa

Muhammad dan orang-orang murtad bersamanya telah bersatu untuk memerangi kalian

      .’

 

      Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, `

Ini Azab

      , syetan Al-Aqabah. Ini anak Azyab.

Dengarkan wahai musuh Allah, demi Allah, aku pasti mematikanmu.’

      Setelah itu, Rasulullah SAW bersabda kepada kaum Anshar, `Pulanglah kalian ke pos kalian’.”

Sebagian Orang-orang Anshar Ingin Segera Perang

      Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah berkata kepada Rasulullah SAW, “Demi Allah yang mengutusmu dengan membawa kebenaran,

jika engkau mau, kami akan pergi kepada orang-orang di Mina dengan pedang-pedang kami.

    ” Rasulullah SAW bersabda, “Kami tidak diperintahkan untuk itu. Pulanglah kalian ke pos kalian.”

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 421

Sebelum terjadinya baiat AI-Aqabah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak diizinkan berperang dan darah tidak dihalalkan bagi beliau.

      Beliau hanya diperintahkan berdakwah kepada jalan Allah, bersabar terhadap semua gangguan dan memaafkan orang bodoh. Ketika itu, orang-orang Quraisy menyiksa kaum Muhajirin yang mengikuti beliau hingga mengeluarkan mereka dari agama mereka dan mengusir mereka dari negeri mereka. Kaum Muslimin Makkah berada di antara disiksa karena agamanya dan disiksa di depan mereka atau lari ke negeri-negeri lain. Di antara mereka ada yang lari ke Habasyah, ada yang lari ke Madinah dan ada yang lari ke negeri-negeri lain.
      Ketika orang-orang Quraisy semakin membangkang kepada Allah Azza wa Jalla, menolak kehendak Allah untuk memuliakan mereka, mendustakan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, menyiksa dan mengusir (?) hamba-hamba-Nya yang menyembah-Nya, mentauhidkan-Nya, membenarkan Nabi-Nya dan berpegang teguh kepada agama-Nya,

maka Allah Azza wa Jalla mengizinkan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam berperang, menahan, mengalahkan orang-orang yang mendzalimi kaum Muslimin dan menindas mereka.

      Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengizinkan beliau berperang, darah dihalalkan bagi beliau dan memerangi orang-orang yang menindas beliau seperti dikatakan kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dan ulama-ulama lain ialah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.” Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

      (QS 22:39-41)

 
Jelas sekali, bahwa alasan Muhammad “DIIJINKAN BERPERANG” oleh awloh kayalannya adalah karena dia mendapat dukungan dari orang-orang Anshar. Kalau saja dia tidak pernah berjumpa dengan orang-orang Anshar yang beringas dan doyan merampok itu, mungkin saja ayat-ayat palsu tentang “JIHAD” tidak akan pernah dikarangnya.

Ide “Jihad” ini memang berasal dari orang-orang Anshar.

Bersambung…

Ide 1/5 harta jarahan untuk Muhammad

Ide ini berasal dari Abdullah bin Jahsy (pemimpin perampokan Nakhla).

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 577

 

      Salah seorang dari keluarga Abdullah bin Jahsy menyebutkan bahwa Abdullah bin Jahsy berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempunyai

hak seperlima dari rampasan perang yang kita peroleh

      .’

Itu terjadi ketika Allah Ta’ala belum mewajibkan seperlima terhadap rampasan perang mereka.

    Abdullah bin Jahsy menyisihkan bagian seperlima untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan membagi sisanya kepada sahabat-sahabatnya.”

Jadi, ide seperlima jatah rampasan itu bukan dari awloh, tapi dari Abdullah bin Jahsy.

Di kemudian hari, Muhammad mengesahkannya dengan ayat (agar seolah-olah awloh yang memerintahkan demikian):

      QS 8:41

 

      Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya

seperlima

      untuk Allah,

Rasul

    , kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ide sholat menghadap Kabah

Ide ini berasal dari Al-Barra bin Ma’rur.

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 398-399

Al-Barra’ bin Ma’rur Shalat Sendirian Menghadap Ka’bah

      Ibnu Ishaq berkata bahwa Ma’bad bin Ka’ab bin Malik bin Abu Ka’ab bin Al-Qain, saudara Bani Salimah berkata kepadaku bahwa saudaranya. Abdullah bin Ka’ab, orang Anshar yang paling pandai berkata kepadanya. bahwa ayahnya, Ka’ab berkata kepadanya -Ka’ab hadir pada peristiwa baiat Al-Aqabah Kedua dan ikut berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam-, “Kami berangkat bersama para jama’ah haji kaum kami yang masih musyrik. Kami terbiasa shalat dan belajar. Ikut bersama kami AI-Barra’ bin Ma’rur, pemimpin dan orang tua kami.
      Ketika kami telah siap untuk berangkat dan keluar dari Madinah, Al-Barra’ bin Ma’rur berkata,

`Hai kaumku, demi Allah, aku mempunyai pendapat. Aku tidak tahu, apakah kalian sependapat denganku dalam hal ini atau tidak?’

      Kami bertanya,

`Apa itu?’

      Al-Barra’ bin Ma’rur berkata,

`Aku berpendapat bahwa aku tidak akan meninggalkan Ka’bah berada di belakang punggungku dan aku tidak berhenti dari shalat menghadap kepadanya.’

      Kami berkata,

`Demi Allah, kami mendapatkan informasi bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat menghadap Syam (Baitul Maqdis) dan kami tidak ingin menentang beliau.’

      Al-Barra’ bin Ma’rur berkata,

`Sungguh, aku akan shalat menghadap Ka’bah.’

      Kami berkata,

`Kami tidak akan melakukannya.’

      Jika waktu shalat telah tiba, kami shalat menghadap Syam (Baitul Maqdis), sedang

Al-Barra’ bin Ma’rur menghadap Ka’bah

      , hingga kami tiba di Makkah. Kami dibuat lelah oleh tindakan Al-Barra’ bin Ma’rur, karena ia tidak mau shalat kecuali dengan caranya sendiri. Ketika kami telah tiba di Makkah, Al-Barra’ bin Ma’rur berkata kepadaku. `Hai anak saudaraku, pergilah kepada Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam dan bertanyalah kepadanya tentang perbuatanku selama dalam perjalanan. Karena demi Allah, aku melihat telah terjadi sesuatu pada diriku ketika aku melihat kalian menentang perintahku.’
      Kami pun pergi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kami tidak kenal beliau dan tidak pernah melihat beliau sebelumnya. Kami bertemu dengan salah seorang dari penduduk Makkah, kemudian kami bertanya kepadanya tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Orang tersebut berkata, `Apakah kalian kenal dengannya?’ Kami menjawab, `Tidak.’ Orang tersebut bertanya, `Apakah kalian kenal pamannya, Al-Abbas bin Abdul Muththalib?’ Kami menjawab, `Ya, kami kenal dengannya. Kami kenal Al-Abbas, karena ia sering datang kepada kami untuk berdagang.’ Orang tersebut berkata, ‘Jika kalian masuk ke dalam masjid, maka orang yang sedang duduk bersama Al-Abbas itulah yang kalian cari.’ Kemudian kami masuk ke dalam masjid, ternyata di dalamnya terdapat Al-Abbas bin Abdul Muththalib sedang duduk dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk bersamanya. Kami ucapkan salam dan duduk kepadanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada Al-Abbas, `Hai Abu Al-Fadhl, apakah engkau kenal dengan dua orang ini?’ Al-Abbas menjawab, ‘Ya. Ini Al-Barra’ bin Ma’rur, tokoh di kaumnya dan ini ialah Ka’ab bin Malik.’ Demi Allah, aku tidak lupa akan pertanyaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, `Apakah Ka’ab bin Malik yang penyair itu?’ Al-Abbas menjawab, ‘Ya betul.’
      Al-Barra’ bin Ma’rur berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

`Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku berada dalam perjalanan ini dan Allah telah memberiku petunjuk kepada Islam, kemudian aku berpendapat untuk tidak menjadikan Ka’bah berada di belakang punggungku, kemudian aku shalat menghadap kepadanya. Sikapku itu tidak disetujui sahabat-sahabatku hingga terjadi sesuatu dalam diriku, maka bagaimana pendapatmu, wahai Rasulullah?’

      Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, `Engkau telah berada dalam kiblat, jika engkau bersabar terhadapnya.’
      Kemudian Al-Barra’ kembali kepada kiblat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan shalat bersama kami menghadap ke Syam (Baitul Maqdis). Ada yang mengatakan Al-Barra’ tetap shalat menghadap ke Ka’bah hingga ia meninggal dunia. Ini tidak benar, karena kami lebih tahu tentang AI-Barra’ bin Ma’rur daripada orang-orang tersebut.”
      lbnu Hisyam berkata bahwa Aun bin Ayyub Al-Anshar berkata,

Di kalangan kami, terdapat manusia pertama yang shalat Menghadap Kabah Ar-Rahman di antara Masyair. Yang dimaksud dengan manusia pertama tersebut ialah Al-Barra’ bin Ma’rur.
Jadi jelaslah sudah, bahwa ide sholat menghadap Kabah (rumah 360 berhala) adalah berasal dari Al-Barra bin Ma’rur.

Di kemudian hari, setelah Barra meninggal, Muhammad mengarang ayat tentang pemindahan kiblat dari Yerusalem (baitul maqdis) ke Mekkah di mana terdapat Kabah (360 berhala):

      QS 2:144.

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

      QS 2:149.

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

      QS 2:150.

Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.
Ide Al-Barra itu tidak salah, karena memang di situlah letak kedudukan tuhannya Muhammad. Ayat berikut dikarang Muhammad jauh sebelum peristiwa baiat Al-Aqabah:

      QS 27:91. Aku hanya diperintahkan untuk menyembah

Tuhan negeri ini (Mekah)

    Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

 
Tuhannya ada di Kabah, maka sungguh tepat kalau sholatnya juga harus menghadap Kabah.
Ide Al-Barra benar-benar ide yang sangat brilian yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh Muhammad.

Bersambung…

 

Ide keharusan memakai hijab (jilbab total) bagi wanita muslim

Ide ini berasal dari Umar bin Khattab.

Sahih Al-Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 313:

 

      Diceritakan oleh Umar bin Khattab: Aku berkata,

“Oh Rasul Allah! Orang-orang alim dan orang-orang mata keranjang ada di sekitarmu, jadi sebaiknya aku sarankan bahwa engkau memerintahkan istri-istrimu untuk memakai kerudung.”

    Kemudian Allah menurunkan ayat tentang hijab (=pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita kecuali mata)

Ayat yang dibuat Muhammad untuk mengesahkan ide Umar tersebut:

QS 33:59

    Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Imam Suyuti dalam bukunya: “Sebab Turunnya Ayat Alquran”, halaman 466-467 menjelaskannya secara detil:

Sebab turunnya ayat

      Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah, “Setelah turunnya perintah berhijab, suatu ketika Sau’dah (salah seorang istri Rasulullah) keluar untuk membuang hajat. Sau’dah adalah seorang wanita berbadan besar sehingga akan langsung dikenali jika berpapasan dengan orang yang telah mengenalnya. Di tengah jalan, Umar melihatnya. Umar lalu berkata, ‘Wahai Sau’dah, kami sungguh masih dapat mengenali engkau. Oleh karena itu, pertimbangkanlah kembali bagaimana cara engkau keluar!’
      Mendengar ucapan Umar itu, Sau’dah langsung berbalik pulang dengan cepat. Pada saat itu, Rasulullah tengah makan malam di rumah saya dan di tangan beliau tengah tergenggam minuman. Ketika masuk ke rumah, Sau’dah langsung berkata, ‘Wahai Rasulullah, baru saja saya keluar untuk menunaikan hajat. Akan tetapi, Umar lalu berkata begini dan begini kepada saya.’ Tiba-tiba turun wahyu kepada Rasulullah. Ketika wahyu selesai dan beliau kembali ke kondisi semula, minuman yang ketika itu beliau pegang masih tetap berada di tangannya. Rasulullah lalu berkata, ‘Sesungguhnya telah diizinkan bagi kalian keluar rumah untuk menunaikan hajat kalian.” (Shahih Bukhari, kitab at-Tafsiir, hadits nomor 4795).
    Ibnu Sa’d, dalam kitab ath-Thabaqaat, meriwayatkan dari Abu Malik yang berkata, “Para istri Rasulullah biasa keluar di malam hari untuk menunaikan hajat. Akan tetapi, beberapa orang munafik kemudian mengganggu mereka di perjalanan sehingga mereka merasa tidak nyaman. Ketika hal tersebut dilaporkan (kepada Rasulullah), beliau lantas menegur orang-orang tersebut. Akan tetapi, mereka balik berkata, ‘Sesungguhnya kami hanya melakukannya dengan isyarat tangan (menunjuk-nunjuk dengan jari).’ Setelah kejadian itu, turunlah ayat ini.” Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan hal serupa dari al-Hasan dan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi.

Ide menuhankan hajar aswad

Ide ini berasal dari bani Quraish.

Kita tahu, bahwa di Kabah ada 360 berhala. Tapi pada waktu renovasi, orang-orang Quraish tidak ribut dengan berhala-berhala lain, tapi hanya ribut mengenai Hajar Aswad. Itu artinya, di antara ratusan berhala yang ada di Kabah, hanya hajar aswad satu-satunya “SESEMBAHAN” yang paling dikeramatkan oleh suku Quraish. Dan itulah kemudian yang menjadikan ide bagi Muhammad untuk menyembahnya dan menjadikannya tauhid (satu-satunya) di Kabah.

Mari kita baca kisah perselisihan orang-orang Quraish mengenai peletakan Hajar Aswad:

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 162-163

Konflik Orang-orang Quraisy dalam Peletakan Hajar Aswad

      Ibnu Ishaq berkata, “Semua kabilah di Quraisy mengumpulkan batu-batu untuk pembangunan Ka’bah. Setiap kabilah mengumpulkan batu sendiri-sendiri, kemudian mereka membangun Ka’bah.

Ketika pembangunan memasuki tahap peletakan Hajar Aswad, mereka bertengkar. Setiap kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya tanpa melibatkan kabilah lainnya. Itulah yang terjadi hingga mereka berdebat, saling sumpah, dan bersiap-siap untuk perang. Bani Abduddaar mendatangkan mangkok yang penuh dengan darah, kemudian mereka bersekutu dengan Bani Adi bin Ka’ab bin Luai untuk mati bersama dan memasukkan tangan mereka ke dalam mangkok darah tersebut. Oleh karena itu, mereka dinamakan La ‘aqatu Ad-Dami (sesendok darah). Orang-orang Quraisy selama empat atau lima malam dalam kondisi seperti itu.

Penyelesaian Konflik

      Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian mereka bertemu di Masjidil Haram untuk berunding. Sebagian perawi mengaku bahwa Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah bin Umar bin Makhzum, orang tertua di kalangan Quraisy berkata, ‘Hai orang-orang Quraisy, serahkan penyelesaian konflik kalian ini kepada orang yang pertama kali masuk ke dalam masjid.’ Mereka menuruti perintah Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi orang yang pertama kali masuk ke dalam masjid. Ketika mereka melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah berada di dalam Masjid, mereka berkata, `Kami ridha terhadap orang yang terpercaya ini, Muhammad.’ Ketika beliau bertemu dengan mereka, maka diceritakan kepada beliau, kemudian beliau berkata, `Serahkan kain Ka’bah kepadaku.’ Kain Ka’bah diberikan kepada beliau.

Rasulullah mengambil Hajar Aswad yang diperebutkan, kemudian meletakkannya ke dalam kain dengan tangannya sendiri

      dan berkata, `

Hendaklah setiap kepala kabilah memegang ujung kain, kemudian mengangkat kain tersebut bersama-sama.’ Mereka menuruti perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

      .

Ketika mereka tiba di tempat Hajar Aswad, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengambil Hajar Aswad dari kain tersebut kemudian meletakkannya di tempatnya

    .”

Ada ratusan berhala di Kabah, tapi kenapa yang paling dikultuskan hanya Hajar Aswad?
Bukan patung Hubal yang membuat mereka ribut selama 5 hari. Dan juga bukan karena patung-patung Al-Latta, Al-Uzza atau Al-Manat, atau patung-patung dewa yang lain, tapi karena “SEBONGKAH BATU tak berbentuk makhluk” (=tidak serupa dengan apapun), yaitu HAJAR ASWAD sampai membuat mereka ribut. Jadi, kalau kita ingin tahu dari mana ide menuhankan awloh (=hajar aswad, sosok yang tidak serupa dengan apapun), maka jawabannya adalah dari suku Muhammad sendiri, yaitu dari bani Quraish.

Dia terpesona oleh dogma keesaan yang diajarkan dalam agama Nasrani dan Yahudi. Sebab itu, dia ingin dewa sukunya itu “esa” menurut pemahamannya sendiri, yaitu dengan cara melenyapkan semua berhala yang ada di sampingnya dan disisakan hanya satu saja, yaitu hajar aswad, supaya ia menjadi tauhid.

Yang perlu kita pahami adalah, bahwa orang-orang di Arab menyebut “Allah” sebagai sesembahan yang tertinggi, rajanya para ilah. Bahkan orang Yahudi Medinah pun memakai kata “Allah” untuk menyebut YHVH. Tetapi “Allah” bagi suku Quraish adalah hajar aswad. Dengan demikian kita dapat simpulkan bahwa nama sama, tapi obyek yang dimaksud berbeda. Dan Muhammad tidak condong kepada “obyek” sesembahan Yahudi, melainkan lebih condong kepada “obyek” sesembahan sukunya sendiri, yaitu yang ada di Kabah.

Ide “mengesakan” hajar aswad

Ide ini, secara tak langsung, sebagai akibat pengaruh ajaran Yahudi dan Nasrani.

Muhammad tinggal di lingkungan masyarakat yang heterogen. Tidak hanya kaum Pagan, dia juga kerap berhubungan dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani (mis: Siria & Najran).

Dia tidak tertarik dengan ide politeis (banyak dewa), dia lebih tertarik dengan ide keesaan yang diusung oleh agama ahli kitab.
Pikirnya, kalau orang Yahudi dan orang Siria (Nasrani) bisa menganut paham monoteis dan hal itu membuat mereka maju dan lebih unggul dalam bidang relijius, kenapa orang Arab tidak? Maka dari itulah, Muhammad merasa tergerak hatinya untuk memperjuangkan “misi suci” me-monoteis-kan hajar aswad (awloh sembahan bani Quraish). Mulai dari ayat-ayat Mekkah hingga ayat-ayat Medinah, tidak sedikit dia mengarang kata-kata awloh yang intinya melarang orang Arab mempersekutukan awloh di Kabah. Di tahun 632 M, dia berhasil taklukkan Mekkah dan membersihkan Kabah dari berhala-berhala dan menyisakan hajar aswad. Setelah itu, dia tidak pernah lagi mengarang ayat-ayat tentang pelarangan mempersekutukan awloh.

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2 Halaman 387

Roboh dan Remuknya Berhala-berhala

      Ibnu Hisyam berkata, ulama yang aku percayai berkata kepadaku dalam sanadnya dari Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memasuki Makkah pada hari penaklukannya dengan menaiki unta dan mengelilinginya. Di sekitar Ka’bah terdapat berhala-berhala yang diikat dengan timah, kemudian beliau memberi isyarat kepada patung-patung tersebut dengan potongan kayu di tangan beliau sambil membaca ayat,

Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan adalah sesuatu yang pasti lenyap.’

      (Al-Isra’: 81).
    Setiap kali beliau memberi isyarat ke wajah berhala maka wajah berhala tersebut pasti jatuh ke tengkuknya dan setiap kali beliau memberi isyarat ke tengkuk berhala maka tengkuk berhala tersebut jatuh ke wajahnya. Itulah hingga semua berhala jatuh. Tentang hal tersebut, Tamim bin Asad AI-Khuzai berkata, ‘Di berhala-berhala tersebut terdapat pelajaran dan ilmu bagi orang yang mengharapkan pahala atau siksa ‘. “

Hadits Shahih Bukhari no. 1187

      Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. katanya:

“Nabi SAW memasuki kota Mekkah, sedang di waktu itu di keliling Ka’bah terdapat tiga ratus enam puluh berhala.”
Image

Image

Dengan demikian, Muhammad telah keliru dalam memahami makna “esa” sebagaimana yang dipahami dalam agama ahli kitab.
Penjelasan tentang itu, dapat dibaca pada topik terpisah:
Ajaran Tauhid Muhammad, sebuah kebenaran atau salah kaprah?

Ide mencari nafkah dengan cara merampok

Ide ini berasal dari orang-orang Anshar.

Orang-orang Anshar adalah para perampas kekayaan orang Yahudi di Medinah:

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 176

      Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari beberapa orang dari kaumnya yang berkata, “Sesungguhnya di antara sebab yang membuat kami masuk Islam selain rahmat Allah dan petunjuk-Nya ialah bahwa kami mendengar beberapa orang Yahudi.
      Kami adalah orang-orang musyirikin, dan penyembah patung-patung, sedang mereka adalah ahli kitab. Mereka mempunyai ilmu yang tidak kami ketahui. Konflik terus meledak di antara kami dengan mereka.

Jika kami mendapatkan dari mereka apa yang tidak disukai

      , mereka berkata kepada kami: ‘Sesungguhnya sekarang telah dekat kemunculan seorang nabi. Kelak bersama nabi tersebut, kami akan membunuh kalian seperti pembunuhan terhadap Ad dan Iram.”
    Kami seringkali mendengar ucapan tersebut dari mereka. Ketika Allah Taala mengutus rasul-Nya, kami langsung menjawab seruannya ketika ia menyeru kepada Allah. Kami mengetahui ancaman yang diberikan orang-orang Yahudi kepada kami, jadi kami segera menghadap kepada nabi tersebut, kemudian beriman kepada beliau sedangkan mereka (orang Yahudi) kafir.

Perhatikan kalimat: kami mendapatkan dari mereka apa yang tidak disukai
Kata-kata ini tampaknya telah diperhalus untuk menghilangkan makna sebenarnya.

Jelas, apa yang mereka ambil dari kaum Yahudi itu menimbulkan konflik serius, sehingga membuat kaum Yahudi marah dan mengancam akan membunuh mereka bila “sang nabi” yang dijanjikan itu datang.

Dengan demikian, tidak salah penuturan Dr Ali Sina bahwa suku-suku Arab Baduin di Medinah adalah orang-orang berperilaku buruk yang suka merampas harta benda kaum Yahudi Medinah.

Setelah Muhammad bergaul dengan orang-orang Anshar di Medinah selama setahun, dia merubah cara hidupnya. Dia tidak lagi ingin bekerja sebagai pedagang sebagaimana yang dilakoninya sewaktu di Mekkah, tapi ingin mencari nafkah dengan cara merampok atau merampas harta benda orang lain. Target mula-mula adalah karavan dagang Quraish yang melintasi jalur-jalur umum.

Ini sebuah ironi. Bukannya Muhammad yang mengubah jalan hidup orang-orang Anshar tersebut, malah Muhammad “sang nabi” yang terpengaruh oleh tabiat buruk para pengikutnya.

Dan ini pengakuan langsung dari bibir Muhammad, bahwa dia mencari nafkah dengan cara MERAMPOK:

Hadist Sahih Bukhari no. 88

      Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar bahwa sang Nabi SAW berkata, “Mata pencaharianku berada di bawah bayang² tombakku, (1) dan orang yang tidak taat perintahku akan dihina dengan bayar Jizya.” (2)
      (1) “Di bawah bayang² tombakku” berarti “dari jarahan perang”

 

    (2) Jizya → pungutan uang paksa terhadap kafir Kristen, Yahudi, yang menolak Islam.

Penjelasan lebih lanjut mengenai nafkah hidup Muhammad dan para pengikutnya setelah tinggal di antara orang-orang Anshar Medinah, dapat dibaca di topik terpisah:
Sumber Nafkah Muhammad dan Umat Muslim

Bersambung…
Ide memanggil sholat dengan suara adzan

Ide ini berasal dari Abdullah bin Zaid. Semula Muhammad ingin meniru-niru Yahudi memakai terompet, dan memakai lonceng seperti orang Nasrani. Namun kemudian niat itu dibatalkan setelah mendapatkan ide dari Abdullah bin Zaid.

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 461

      Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merasa nyaman tinggal di Madinah, saudara-saudara beliau dari kaum Muhajirin berkumpul dengan beliau dan persatuan kaum Anshar telah tercapai, Islam pun mulai menguat; shalat dijalankan, zakat dan puasa diwajibkan, hudud (hukuman) dilaksanakan, hal-hal yang halal dan hal-hal yang haram diwajibkan dan Islam mendapat tempat di tengah-tengah mereka. Perkampungan Anshar adalah orang-orang yang menyediakan tempat bagi kaum Muhajirin dan beriman. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah, kaum Muslimin berkumpul untuk menunaikan shalat karena waktunya telah tiba tanpa seruan (adzan). Oleh karena itu, beliau ingin membuat terompet seperti orang-orang Yahudi membuat terompet untuk mengajak kaum Muslimin kepada shalat, namun beliau membatalkannya. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan pembuatan lonceng untuk memanggil kaum Muslimin kepada shalat.”

Mimpi Abdullah bin Zaid

      Ibnu Ishaq berkata, “Ketika kaum Muslimin berada dalam kondisi seperti di atas, tiba-tiba Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah bin Abdu Rabbihi saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj bermimpi melihat seruan shalat. la menghadap kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam chn berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, pada malam ini aku bermimpi melihat seseorang berpakaian hijau berjalan melewatiku dengan membawa lonceng. Aku bertanya kepadanya, `Hai hamba Allah, apakah engkau berniat menjual loncengmu?’ Orang tersebut menjawab, `Apa yang akan engkau kerjakan dengan lonceng ini?’ Aku menjawab, `Aku gunakan untuk memanggil orang kepada shalat.’ Orang tersebut berkata, `Maukah engkau aku tunjukkan yang lebih baik daripada lonceng ini?’ Aku berkata, `Apa itu?’ Orang tersebut berkata, `Hendaknya engkau berkata,

Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Asyhadu an laa ilaaha illallah. Asyhadu an laa ilaaha illallah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Hayya alash shalah. Hayya alash shalah. Hayya alal falah. Hayya alal falah. Allahu akbar. Allahu akbar. Laa ilaaha illallah. ‘

      Setelah Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya itu mimpi yang benar insya Allah. Berdirilah engkau bersama Bilal, kemudian ucapkan lafal adzan tersebut kepada Bilal. Hendaklah Bilal beradzan dengan adzan tersebut, karena suara Bilal lebih keras daripada suaramu.’
      Ketika Bilal sedang mengumandangkan adzan tersebut, maka Umar bin Khaththab yang sedang berada di rumahnya mendengar adzan tersebut. Ia segera pergi menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan menyeret kainnya. Ia berkata. `Wahai Nabi Allah, demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, sungguh aku bermimpi melihat seperti yang dilihat Abdullah bin Zaid dalam mimpinya.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, `Segala puji bagi Allah atas hal ini’.”
      Ibnu Ishaq berkata bahwa hadits di atas disampaikan kepadaku oleh Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harts dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah bin Abdu Rabbihi dari ayahnya.
      Mimpi Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu
      Ibnu Hisyam berkata bahwa Ibnu Juraik menyebutkan bahwa Atha berkata kepadaku bahwa aku mendengar Umair Al-Laitsi berkata,

 

      “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bermusyawarah dengan para sahabat tentang lonceng untuk memanggil kaum Muslimin kepada shalat. Ketika Umar bin Khaththab ingin membeli dua kayu untuk membuat lonceng. tiba-tiba ia bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, Umar bin Khaththab mendapat pesan, `Hendaknya kalian tidak menjadikan lonceng sebagai cara untuk memanggil manusia kepada shalat, namun hendaklah kalian adzan untuk shalat.’ Umar bin Khaththab menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menceritakan mimpinya kepada beliau. Sebelum itu, Rasulullah Shal/allahuAlaihi wa Sallam telah mendapatkan wahyu tentang adzan i{ekagetan Umar bin Khaththab belum hilang, tiba-tiba Bilal mengumandangkan adzan. Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam bersabda ketika Umar bin Khaththab menceritakan mimpinya, `Hal ini telah didahului wahyu’.”

Doa Bilal Radhiyallahu Anhu sebelum Shubuh

      Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dari seorang wanita dari Bani An-Najjar yang berkata,

 

      “Rumahku adalah rumah yang paling panjang di sekitar masjid dan Bilal biasa mengumandangkan adzan shubuh di masjid pada setiap pagi. Pada waktu sebelum shubuh (waktu sahur), Bilal datang lalu duduk di depan rumah menunggu datangnya shubuh. Jika waktu shubuh telah tiba, ia membentangkan badannya, kemudian ia berdoa, `Ya Allah, sesungguhnya aku

 

    memuji-Mu dan meminta pertolongan-Mu agar orang-orang Quraisy tidak mengalahkan agama-Mu.’ Setelah itu, Bilal mengumandangkan adzan. Demi Allah, aku lihat Bilal tidak pernah meninggalkan doanya tersebut.”

Ide menjadikan ‘maqam Ibrahim’ sebagai tempat sholat

Catatan: Maqam Ibrahim di sini hanyalah bualan Muhammad. Setelah dunia modern mengungkap kebohongan tersebut, kata “maqam” kemudian diubah maknanya sebagai “tempat berdiri”, padahal awalnya, Muhammad mengklaim bahwa di samping Kabah terdapat kuburan (maqam) nabi Ibrahim.
Ide ini berasal dari Umar bin Khattab.

Kitab Asbabun Nuzul Jalaludin As-Suyuti halaman 54

      Pertama, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari Jabir, dia berkata, “Ketika Nabi saw. melakukan tawaf, Umar berkata kepada beliau, ‘Apakah ini tempat berdiri ayah kami, Ibrahim?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Umar kembali bertanya,

‘Mengapa tidak kita jadikan tempat shalat?’Maka Allah menurunkan firmanNya, ‘Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat.'”

      (al-Baqarah: 125)
      Kedua, Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari jalur Amr bin Maimun dari Umar ibnul-Khaththab bahwa dia berdiri di tempat berdirinya Nabi Ibrahim, lalu dia bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bukankah kita sedang berdiri di tempat berdirinya Kekasih Tuhan kita?” Rasulullah menjawab, “Benar.” Maka Umar bertanya lagi,

“Mengapa tidak kita jadikan tempat untuk shalat?”Lalu tidak lama dari itu turunlah firman Allah,
“Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat.”

      (al-Baqarah: 125)
    Secara zhahir dari riwayat ini dan yang sebelumnya bahwa ayat tersebut turun pada haji wada’.

Buku Sejarah Para Khalifah, terbitan Pustaka Al-Kautsar, cetakan pertama, April 2008, halaman 12

      Umar pernah berkata, “Saya menepati Tuhanku pada tiga permasalahan. Saya berkata,

‘Wahai Rasulullah, andaikan kita menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat,’maka turunlah ayat, “… dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat…”

    (Al-Baqarah 125)

Ide larangan mensholati orang munafik

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2 Halaman 523-524

      Ayat Al-Qur’an Yang Turun tentang Hukum Menyalati Orang-orang Munafik
      Ibnu Ishaq berkata, Az-Zuhri berkata kepadaku dari Ubadillah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas yang berkata, aku mendengar

Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata

      , “Ketika Abdullah bin Ubai meninggal dunia, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dipanggil untuk menyalatinya, kemudian beliau pergi ke tempat jenazah Abdullah bin Ubai. Ketika beliau berdiri di depan Abdullah bin Ubai untuk menyalatinya, aku pindah tempat hingga berdiri di depan beliau. Aku berkata, Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menyalati musuh Allah, Abdullah bin Ubai bin Salul, yang pernah berkata ini dan itu pada hari ini dan itu? la juga pernah berkata ini dan itu pada hari ini dan itu?’ Aku menyebutkan hari-hari dimana pada hari-hari tersebut, Abdullah bin Ubai bin Salul pernah berkata ini dan itu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum. Ketika aku terus-menerus berkata seperti itu kepada beliau, maka beliau bersabda kepadaku, ‘Hai Umar, berilah aku waktu, karena aku diberi pilihan kemudian aku mengambil pilihanku’, kemudian dikatakan kepadaku,

‘Kamu memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampunan bagi mereka (adalah sama saja); kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali; namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka; yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.’

      (At-Taubah: 80). Jika aku tahu bahwa jika aku meminta ampunan lebih dari tujuh puluh kali, kemudian dosa Abdullah bin Ubai bin Salul diampuni, aku akan menambah permintaan ampunan untuknya lebih dari tujuh puluh kali.’
      Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyalati jenazah Abdullah bin Ubai bin Salul dan aku berjalan bersama beliau hingga beliau berdiri di atas kuburannya dan proses penguburannya selesai. Aku heran akan kelancanganku terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Demi Allah, tidak lama setelah itu, turunlah dua ayat berikut,

Dan janganlah kamu sekali-kali menyalati (Jenazah) seorang yang mati di antara mereka dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya, sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik

      (At-Taubah: 84).
    Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyalati jenazah orang munafik, hingga beliau wafat.”

Kitab Asbabun Nuzul Jalaludin As-Suyuti halaman 296-297

Dan janganlah kamu sekali-kali menyalati (Jenazah) seorang yang mati di antara mereka dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya, sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan

        (At-Taubah: 84).

 

      Sebab turunnya ayat
      Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ketika Abdullah bin Ubay mati, putranya menghadap Rasulullah, meminta beliau memberikan baju beliau kepadanya untuk mengafani bapaknya. Beliau pun memberikannya. Lalu ia meminta beliau menshalatinya. Ketika beliau berdiri hendak menshalatinya,

Umar ibnul-Khaththab bangkit memegangi baju beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau hendak menshalatinya, padahal Allah telah melarangmu menshalati orang-orang munafik?”

      Beliau menjawab, “Allah hanya menyuruhku memilih. Dia berfirman,”Dan aku akan melakukannya lebih dari tujuh puluh kali.”
      Lalu Umar mengatakan, “Akan tetapi dia munafik!” Tapi beliau tetap menshalatinya.

Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan shalat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya….”

      Setelah itu beliau tidak lagi menshalati orang-orang munafik.

 

    Hal ini dituturkan dalam hadits Umar, Anas, Jabir, dan lain-lain.

Buku Sejarah para Khalifah, terbitan Pustaka Al-Kautsar, cetakan pertama April 2008, halaman 13

Umar juga pernah menyampaikan kepada Nabi agar tidak menshalati jenazah orang-orang munafik. Lalu, turunlah firman Allah

      ,

“Janganlah kalian menshalati orang yang mati dari mereka selamanya, dan jangan kamu berdiri (mendoakannya) di kuburnya, sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.”

    (QS At-Taubah 84)

Ide ayat ancaman buat istri Muhammad

Kitab Asbabun Nuzul Jalaludin As-Suyuti halaman 54

      Pada suatu ketika para istri Rasulullah melampiaskan rasa cemburu mereka kepada beliau.

Maka saya katakan kepada mereka, ‘Bisa-bisa Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian.’ Maka, turunlah firman Allah dalam hal ini.
Buku Sejarah para Khalifah, terbitan Pustaka Al-Kautsar, cetakan pertama April 2008, halaman 13

      Ketika istri-istri beliau berkumpul karena sifat cemburu terhadap beliau,

maka saya (Umar) berkata kepada mereka: ‘Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.’

      (At-Tahrim:5),

maka turunlah ayat ini

    .

Image
Ide Menambahkan Ritual Pagan Safa-Marwa ke dalam Ritual Ibadah Islam

Semula, ritual pagan Safa-Marwa bukan termasuk ritual ibadah dalam Islam. Setelah orang-orang Anshar menanyakan tentang boleh atau tidaknya mereka melakukan ritual tersebut, Muhammad dengan cerdiknya (untuk menyenangkan hati orang-orang Anshar) mengesahkan ritual pagan kaum Anshar tersebut sebagai bagian ritual ibadah Islam.

Kitab Asbabun Nuzul Jalaludin As-Suyuti halaman 59-60

QS 2:158. Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

      Sebab turunnya ayat
      Imam Bukhari, Imam Muslim, dan yang lainnya meriwayatkan dari Urwah, dia berkata, “Saya katakan kepada Aisyah istri Nabi saw., ‘Perhatikanlah firman Allah,

 

      ‘Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syi’ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya….”(al-Baqarah: 158)
      Saya kira tidak ada dosa bagi orang yang tidak melakukan sai di antara keduanya.’
      Maka Aisyah berkata, ‘Buruk sekali yang kau katakan itu wahai anak saudariku. Seandainya arti ayat itu seperti yang engkau pahami, maka artinya, ‘Maka tidak ada dosa baginya untuk tidak melakukan sai di antara keduanya.’

Akan tetapi ayat itu turun karena orang-orang Anshar sebelum masuk Islam, melakukan sai di antara keduanya sambil menyebut-nyebut nama patung Manat sebagai sebuah prosesi ritual. Setelah masuk Islam, mereka merasa keberatan untuk melakukan sai antara Shafa dan Marwa.

      Maka mereka bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami merasa tidak suka untuk melakukan sai antara Shafa dan Marwah pada masa jahiliah ‘ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syi’ar (agama) Allah….”

      Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Ashim bin Sulaiman, dia berkata, “Saya bertanya kepada Anas tentang bukit Shafa dan Marwa. Maka dia menjawab,

‘Dulu keduanya adalah bagian dari ritual jahiliah

      . Ketika Islam datang, kami pun tidak melakukannya lagi. Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

‘Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syi’ar (agama) Allah….”

      Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Pada masa jahiliah, setan-setan bernyanyi di seluruh malam di antara Shafa dan Marwa. Dan dulu di antara keduanya terdapat sejumlah berhala yang disembah oleh orang-orang musyrik. Ketika Islam datang, orang-orang muslim berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak akan melakukan sai antara Shafa dan Marwa

karena kami melakukan hal itu pada masa jahiliah.

Maka Allah menurunkan ayat 158 surah al-Baqarah

    .”

Read More

Posted on Juli 8, 2011, in Hadis, Hajar Aswad, Ibadah, Ibnu Hisyam, Muhammad, Quran, Sirah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Ide-ide yang mempengaruhi Muhammad.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: