Qur’an, Surah An-Nisaa’ (4), ayat 56


Qur’an, Surah An-Nisaa’ (4), ayat 56

Qur’an, Sura An-Nisaa’ (4), ayat 56 menyatakan:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kuceritakan yah tentang kucingku. Aku telah memelihara binatang ini sejak dia masih bayi. Aku beli berbagai mainan baginya agar dia tidak merasa bosan. Aku meluangkan banyak waktu untuk bermain dengannya, meskipun dengan demikian pekerjaanku jadi terbengkalai. Aku merawatnya; memberinya makanan yang mahal karena dia tidak mau makan yang lainnya. Aku memandikannya setiap waktu dan melakukan segala hal sebagai pemilik kucing yang bertanggung jawab agar si kucing sehat dan bahagia. Kadangkala dia berantem dengan kucing lain dan akibatnya terluka. Aku bawa dia ke dokter kucing untuk merawat lukanya agar tidak infeksi.

Aku adalah pemilik kucing yang baik, tapi sialnya kucing ini sungguh tak tahu terima kasih. Dia tidak pernah datang padaku jika aku memanggilnya. Bahkan menolehkan kepalanya pun tidak, seakan-akan aku ini tidak ada saja. Dia hanya menggerakkan satu kupingnya sedikit saja jika aku memanggil namanya dan lalu tetap menunjukkan sikap tak peduli. Tapi jika aku duduk untuk menulis sesuatu dan tidak ingin diganggu, dia akan memaksa duduk di pangkuanku. Meskipun aku lalu meletakannya di lantai, dia akan loncat lagi ke pangkuanku dan terus ngotot pengen duduk di situ. Dia hanya mementingkan diri sendiri dan apa yang dia maui saja. Aku luangkan banyak waktu untuk menyikati bulunya agar bulu² yang rontok tersingkir. Dia suka sekali dan mendengkur keras sambil berguling menunjukkan bagian badannya yang lain agar aku menyikati bagian itu. Tapi begitu dia telah puas, dia lalu kentut di mukaku.

Kucing ini benar² tidak menghormatiku. Aku sangat tersinggung akan tindakannya dan aku mulai berpikir untuk menghukumnya. Dia itu sangat kurang ajar dan tak tahu terima kasih. Sungguh dia itu layak untuk dibunuh. Tapi aku tidak akan membunuhnya begitu saja. Aku akan siksa dia agar mati perlahan dan kesakitan. Ini semua gara² dia amat tidak tahu diri dan aku sangat tersinggung.

Aku berpikir untuk menyalibnya agar dia tidak bisa bergerak. Lalu aku potong² semua jari²nya satu per satu. Lalu aku panggangg dia di atas api sampai semua bulu² dan kulitnya terbakar. Aku lakukan semua ini pelan² agar dia tambah menderita. Lalu aku siram tubuhnya dengan air mendidih dan menikmati dia menjerit-jerit kesakitan di kayu salib dan tidak bisa melarikan diri. Setelah itu aku lepaskan dia agar menderita kesakitan lebih lama. Lalu aku potong² bagian tubuhnya selagi dia masih hidup. Dengan gunting, aku potong kuping² dan buntutnya sedikit demi sedikit agar dia sangat menderita dan lalu aku bakar dia hidup².

Aku ini sebenarnya adalah orang yang sangat penyayang dan pemaaf. Itulah yang dikatakan teman²ku tentang diriku. Tapi aku ini juga sangat adil, lho. Keadilan harus dilaksanakan dan kucing ini sangat tak tahu terima kasih sehingga dia harus dihukum.

Wah, aku hanya bercanda saja lhoo.. Tentu saja aku tak akan menyakiti kucing kecilku. Aku sangat mencintainya. Aku mencintainya terutama karena dia itu sangat berdikari. Dia mengingatkanku akan diriku, seorang pemikir sekuler, bebas dalam berpikir, dan tidak suka berpura-pura. Aku tidak tersinggung atas sikap kucingku yang masa bodo. Aku tidak akan pernah tersinggung padanya, apapun yang dilakukannya. Hanya orang xintink saja yang tersinggung dengan kucing. Tiada perbuatan kucing yang bisa menyinggung perasaan manusia. Kucing memang tidak secerdas manusia dan kita pun tidak bisa berharap mereka jadi secerdas kita. Tapi bagaimana jadinya jika aku ternyata sangat bersungguh-sungguh dengan tulisanku di bagian awal? Tentunya kalian akan mengatakan bahwa aku adalah orang gila, maniak, dan berbahaya, bukan? Tentu saja sudah sewajarnya kalian menganggap aku begitu. Hanya orang sadis sakit jiwa saja yang sanggup menyiksa kucing atau binatang sedemikian rupa.

Tapi coba pikirkan akan hal ini! Bukankah inilah penjabaran Muhammad akan Allâh SWT? Apakah kalian benar² percaya bahwa pencipta jagad raya ini adalah seorang sadis yang sakit jiwa? Jika kualitas perilaku seperti ini tidak layak bagi orang waras, bagaimana mungkin kualitas ini bisa layak bagi Tuhan? Allâh yang dijabarkan Muhammad bahkan lebih parah daripada itu. Aku mungkin bisa menyiksa kucingku selama beberapa jam dengan cara sangat sadis sampai akhirnya dia mati dan tidak bisa merasa sakit lagi. Tapi tuhan yang dijabarkan Muhammad akan terus menyiksa manusia untuk selamanya. Allâh itu jauuuh lebih jahat daripada segala orang sadis yang bisa kau bayangkan.

Bukankah ini merupakan penghinaan bagi sang Pencipta jagad raya? Bukankah percaya hal seperti ini merupakan penghujatan bagi sang Pencipta? Ketika kau bicara tentang neraka dan hukuman abadi bagi yang tak beriman, sebenarnya kau telah menyatakan bahwa Tuhan itu adalah makhluk xintink. Perihal “neraka” merupakan pokok bahasan utama di Qur’an. Hal ini dibahas sebanyak kurang lebih 200 kali. Qur’an itu sarat dengan peringatan dan ancaman hukuman neraka dengan rincian yangmengerikan tentang penyiksaan di neraka abadi. Apakah yang bisa kita mengerti akan hal ini? Hal ini menjelaskan pada kita bahwa Muhammad itu melihat Tuhan sebagai makhluk sadis yang sakit jiwa. Allâh SWT itu jelas bukan Tuhan. Allâh SWT itu hanyalah sosok khayalan Muhammad akan dirinya sendiri yang sadis. Allâh SWT tak lain daripada personifikasi sifat narsisitik Muhammad. Umat Muslim itu sebenarnya tidak menyembah Tuhan. Dengan melekatkan sifat sadis pada diri Tuhan, mereka berarti telah menghujat Tuhan.

Apakah semua ini tidak cukup untuk melihat kenyataan bahwa Muhammad adalah pendusta belaka? Apakah mungkin pencipta jagad raya yang luar biasa ini ternyata hanyalah makhluk rendah yang begitu sakit jiwa sehingga dia bisa merasa tersinggung dengan apa yang dipikirkan manusia? Jika seekor kucing tidak bisa menyinggung perasaan kita bagaimana pun kucing itu bertindak, bagaimana mungkin Tuhan, yang jauh lebih tinggi daripada kita, bisa tersinggung dengan apa yang kita pikirkan? Perbedaan antara aku dan kucingku tentunya tidak sebesar perbedaan antara manusia dan Tuhan. Jika kita tidak tersinggung dengan perbuatan kucing dan menganggap menghukum kucing tak tahu terima kasih sebagai perbuatan gila, bagaimana mungkin kita melekatkan sifat gila ini pada Tuhan? Jika kita bisa mengasihi seekor binatang tanpa pamrih, tanpa mengharapkan sikap terima kasih dari binatang itu, mengapa Tuhan tidak mampu mengasihi ciptaanNya tanpa pamrih pula? Apakah karena Tuhan itu lebih rendah daripada kita? Bagaimana mungkin Tuhan bisa demikian gila untuk menghukum manusia dengan cara yang sangat sadis hanya karena manusia tidak mau percaya padaNya? Mengapa Dia begitu butuh untuk disembahi? Tuhan yang sejati tentunya tidak akan bersikap serendah itu. Muhammad sudah jelas berdusta.

Muhammad itu adalah orang yang sangat tidak mengerti siapa Tuhan. Sungguh mengherankan bahwasanya semilyar orang di dunia sekarang percaya pada nabi xintink ini! Sebagai seorang narsistik, dia mengira bahwa sikap mendominasi orang lain melalui rasa takut adalah kemenangannya yang terbesar. Dia ingin orang² tunduk padanya lewat rasa takut. Karena itulah Allâh dijadikannya sebagai alat penakut. Padahal Tuhan sejati itu sangat penuh kasih sayang.

Bayangkan andaikata kau punya kebun yang luas, dan di suatu bagian kebun terdapat sebuah koloni semut. Kau mungkin tidak mengetahui semut² itu ada di sana. Sekarang bayangkan andaikata salah seekor semut mengatakan pada semut yang lain bahwa dia adalah nabi yang kau utus dan kau telah memerintahkan semua semut untuk menyembahmu dan mentaatimu dan jika tidak percaya pada si nabi semut, maka kau suatu hari nanti akan mengumpulkan semut² yang tak percaya dan membakar mereka semua. Ini tentunya sangat konyol. Apakah kau peduli jikalau para semut menyembahmu atau tidak? Pemikiran seperti ini sungguh menggelikan. Tapi sebenarnya begitulah yang sedang terjadi pada umat Muslim saat ini. Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi yang diutus Tuhan, dan dia berhasil menipu orang² bodoh agar mereka percaya akan dirinya, dan jika tidak percaya maka mereka akan dibakar oleh Tuhan.

Ini sungguhlah pemikiran yang sangat bodoh. Sungguh merupakan suatu tragedi bahwasanya saat ini semilyar Muslim percaya pada dusta Muhammad dan khayalannya akan tuhan yang maha sadis. Tentunya kebodohan manusia itu ada batasnya. Atau jangan² malah tak ada batasnya?

Jika kita tidak peduli apakah para semut menyembah kita atau tidak, maka mengapa Tuhan musti peduli jikalau manusia menyembahNya atau tidak? Kau pikir dirimu itu siapa? Apakah pernah terlintas di otakmu bahwa sebenarnya kau itu bukan apa² dibandingkan seluruh isi jagad raya ini? Dirimu dan kehidupanmu tidak berarti apapun. Apakah kau mengira dirimu itu begitu penting sehingga perasaan sang Pencipta jagad raya tergantung akan sikapmu, sehingga jika kau tidak nungging menyembahnya lima kali sehari maka dia akan membakarmu dengan sadis untuk selamanya? Konsep pemikiran seperti ini sungguh tidak waras. Ini merupakan puncak dari segala kebodohan, dan inilah dasar fondasi utama Islam. Islam berdiri berlandaskan kebodohan umat Muslim. Sungguh merupakan hal yang sangat memalukan untuk dikenal sebagai Muslim. Tiada yang bisa dibanggakan sama sekali dari kebodohan ini. Marilah kita sebarkan fakta ini agar seluruh dunia melihat bagaimana parahnya umat Muslim telah tertipu. Jika Anda adalah seorang Muslim, maka kau dan anak²mu hanya jadi bahan tertawaan umat manusia lainnya. Tak lama lagi julukan Muslim akan menjadi ejekan bagi seseorang, sama seperti menyebut orang sebagai Nazi atau fasis di jaman sekarang. Jangan teruskan kebodohan ini, dan berhentilah membodohi diri sendiri. Dusta Islam sudah sangat jelas nyata.

Kita bisa memaafkan kebodohan orang² Arab di abad ke 7 M yang tertipu dusta Muhammad. Tapi apakah kita bisa memaafkan kebodohan orang² berpendidikan jaman sekarang yang masih saja mau ditipu Islam?

Jika umat Muslim mampu berpikir dengan jelas, keterangan artikel ini sudah cukup bagi mereka untuk melihat bahwa Muhammad bukanlah nabi. Tuhan karangannya tidak lain daripada ego khayalannya sendiri, yang persis seperti dirinya, yakni orang sadis yang sakit jiwa. Allâh itu adalah sosok yang diinginkan Muhammad pada dirinya sendiri – seorang tiran, seorang yang bisa melakukan apapun yang disukainya dan tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatannya; seorang yang disembah, yang ditakuti. Orang² narsistik memang sangat ingin dicintai dan ditakuti. Muhammad menciptakan Allâh untuk mewujudkan impian² narsistiknya. Semilyar umat Muslim ternyata tak mampu untuk melihat tipu daya seorang sakit jiwa. Ini tentunya adalah suatu tragedi. Tidak heran mengapa umat Muslim hidup penuh penderitaan. Mereka mengikuti orang sakit jiwa yang mengaku sebagai nabi dan menyembah tuhan yang maha sadis – yang hanyalah khayalan nabi gila itu. Sungguh menyedihkan!

Posted on Juli 8, 2011, in Allah, Neraka, Quran and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Qur’an, Surah An-Nisaa’ (4), ayat 56.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: