A Sina: Apakah Muhammad Memperkosa Safiyah?

Apakah Muhammad Memperkosa Safiyah?

Oleh: Ali Sina
2 Januari, 2010

Amir adalah salah seorang dari banyak Muslim yang menulis padaku untuk menantangku berdebat. Aku katakan padanya bahwa aku aku hanya mau berdebat dengan para ahli Islam yang terkenal, atau dengan Muslim yang mau membaca bukuku. Amir menerima tantanganku untuk membaca bukuku. Aku kirim dia bukuku versi keempat dalam bentuk PDF. Setelah membaca bukuku, Amir mengalami keadaan murtad atau hampir murtad. Tak ada seorang pun yang baca bukuku dan tetap masih percaya akan Islam.

Kebanyakan Muslim yang menerima bukuku tidak pernah menulis kembali padaku. Aku yakin mereka jadi takut dan berhenti membaca. Beberapa dari mereka cukup berani untuk membaca sampai habis. Amir adalah salah satu dari mereka.

Dia ajukan beberapa pertanyaan. Pada dasarnya, dia ingin aku “mengajukan bantahan” terhadap tulisan Bassam Zawadi. Selama ini aku tidak begitu mempedulikan Zawadi karena artikel² yang ditulisnya tentang Muhammad malahan membenarkan apa yang kukatakan. Akan tetapi demi kepentingan orang² yang tak mampu melihat hal ini, aku akan mengabdikan bulan² berikut untuk menjawab pernyataan Pak Zawadi.

Berikut adalah e-mail dari Amir dan jawabanku atas pertanyaan pertamanya tentang Safiyah, istri Muhammad berdarah Yahudi. Kisahnya tercantum di sini.

Amir:

Hai Pak Ali Sina,
Jujur saja kukatakan padamu: IYA, bukumu memang telah menggoncangkan iman Islamku yang kecil dan dangkal. Sekarang aku ingin jawabanmu satu per satu terhadap semua argumen yang kuajukan, yang ditulis oleh para ahli Islam, seperti yang telah kau janjikan padaku dan membantuku untuk meninggalkan Islam selamanya, ATAU biarkan aku berada dalam keraguan dan kebingunan yang nantinya akan membuatku melawan pikiranku, keluargaku, dan masyarakatku. Tapi Pak Sina, kuharap kau melakukan pilihan pertama.

Tuduhan Nomer 1: “Tukang Perkosa”
Sungguh menarik bahwasanya Ali Sina menganggap Nabi memperkosa Safiyyah. Kita tak perlu menanggapi tuduhan² tolol ini, dan sebaiknya membahas hal penting lain saja. Tapi jika ada orang yang tertarik untuk mengetahui tentang Safiyyah, maka silakan baca artikel hebat yang ditulis oleh saudara kita Bassam Zawadi:

http://www.answering-christianity.com/b … rophet.htm

Dalam bantahannya, Basam Zawadi mengutip berbagai hadis untuk membuktikan bahwa tidaklah adil untuk mengatakan pernikahan Muhammad dengan Safiyyah adalah perkosaan, karena sebenarnya Safiyyah mencintai Muhammad. Inilah yang ditulisnya:

Zayd ibn Aslam berkata, “Ketika Nabi sangat sakit dan hampir mati, istri²nya datang mengelilinginya. Safiyyah binti Huyyayy berkata,’ Wahai Rasul Allah, demi Allah, aku ingin berada di tempatmu.’ Mendengar perkataannya, istri² Nabi mengedipkan sebelah mata padanya. Sang Nabi melihat perbuatan mereka dan berkata, ‘Cuci mulut kalian.’ Mereka berkata, ‘Kenapa kok gitu, Rasul Allah?’ Dia berkata, ‘Karena kau mengedipkan mata padanya, demi Allah, dia berkata jujur.’”
(ref. Ibn Sa’d, Tabaqat, vol. 8, p.101, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, hal.175)

Image
Untuk mengerti dinamisme keadaan, kita harus menelaah lebih jauh pernyataan² dalam hadis ini. Setiap kejadian, jika dilihat sebagai satu kejadian saja, maka maknanya akan tampak kabur. Jika kita kumpulkan berbagai hadis jadi satu, seperti susunan gambar teka-teki, maka gambar sebenarnya akan muncul.

Safiyah adalah tawanan perang, dalam segala makna. Ayahnya dan pamannya dipenggal, dan suaminya disiksa sampai mati. Semua saudara lelaki dan anggota keluarga lakinya dibantai dan anggota keluarga wanitanya diperbudak oleh Muslim. Akhirnya dia ditinggal seorang diri saja dan dalam keadaan tertangkap musuh.

Apakah masuk akal bahwa orang waras dalam keadaan seperti Safiyah bisa jatuh cinta pada penangkapnya dan pembunuh orang² yang dicintainya? Tentu saja tidak masuk akal sama sekali.

Sains telah berkembang dalam setiap bidang, termasuk psikologi. Banyak kejadian yang mengherankan banyak orang selama berabad-abad, terutama tentang Muhammad dan kehidupannya, sekarang bisa dijelaskan melalui penemuan² di bidang psikologi. Bukuku, Mengenal Muhammad, adalah analisa psikologi tentang Muhammad. Ini adalah satu²nya buku yang membahas hal ini.

Jawaban dari pertanyaan ini tercantum di bagian delapan, edisi kelima bukuku. Amir, kau baca edisi yang keempat. Berikut adalah keterangan singkatku.

Image
Cameroon Hooker

Cameroon Hooker, orang sakit jiwa, menculik Colleen Stan, gadis usia 20 tahun, dan menyimpa Colleen dalam kotak kayu seperti peti mati di bawah tempat tidurnya selama tujuh tahun. Setelah Colleen berhasil melarikan diri, dia tidak melaporkan Hooker pada polisi. Hooker ditangkap polisi setelah istrinya mengaku apa yang diperbuat suaminya, karena seorang pendeta menasehatinya untuk melaporkan suaminya pada polisi.

Dalam pengadilan, Colleen tidak membantu pihak Jaksa Penuntut. Lebih parah lagi, pengacara Hooker malahan menayangkan bukti surat cinta yang ditulis oleh Colleen bagi Hooker.

Image
Colleen Stan

Fakta sudah jelas. Colleen diculik, hidupnya terancam, dan dia disekap dalam kotak kayu selama tujuh tahun.

Lalu mengapa Colleen tidak membantu pihak Jaksa Penuntut? Kenapa bikin surat cinta segala? Para juri tidak bisa menunjuk bahwa Hooker bersalah karena Colleen tidak tampak marah akan apa yang dialaminya. Teka-teki aneh ini terpecahkan oleh seorang ahli jiwa yang menjelaskan bahwa dibawah tekanan berat, para tawanan biasanya mengalami perkembangan perasaan cinta dan kesetiaan terhadap para penawannya. Inilah yang disebut sebagai sindrom Stockholm.

Image
Colleen Stan dikurung dalam kotak kayu ini selama tujuh tahun di bawah tempat tidur Hooker.

Sindrom ini merupakan mekanisme penyesuaian diri pada keadaan yang begitu mengerikan. Hooker lalu dihukum seumur hidup, tanpa diberikan hak untuk mengajukan pembebasan bersyarat.

Hanya melalui keterangan psikologi manusia macam ini kita bisa mengerti pernyataan aneh cinta Safiyah terhadap pembunuh orang² yang paling dikasihinya.

Zawadi melanjutkan,

“Ini adalah Umm al- Mu’minin (Ibu Muslim Mu’min), Safiyyah, sehubungan dengan saat dia membenci Nabi karena Nabi membunuh ayahnya dan suaminya. Nabi meminta maaf padanya dengan berkata, “Ayahmu menggalang kaum Arab untuk menyerangku dan melakukan perbuatan yang jahat,” dia meminta maaf sampai Safiyyah menghilangkan kepahitannya terhadap sang Nabi.
(ref. Al-Bayhaqi, Dala’il an-Nubuwwah, vol. 4, hal. 230, dikutip oleh Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, hal.166)

Apakah ini masuk akal? Muhammad memancung leher ayah Safiyah dan suaminya, membenarkan tindakannya, dan Zawadi mengatakan Muhammad minta maaf (padahal tidak!) dan Safiyah lalu memaafkannya. Aku tak tahu candu apa yang disedot Zawadi (apalagi kalau ini bukan akibat dari otak yang diracuni Islam), tapi argumennya sama sekali tak masuk akal. Jika kau membunuh ayah, suami, seluruh keluarga seorang wanita, lalu menjelaskan pada wanita itu mengapa kau harus melakukan pembunuhan² tersebut, apakah kau kira wanita itu akan memaafkanmu? Jalan pikir kacau Muslim inilah yang membuat mereka percaya akan kemustahilan kisah tersebut. Jika saja Muslim mau menggunakan akal sehat barang sedikit saja, maka mereka akan segera lari meninggalkan Islam.

Iya, memang Safiyyah marah terhadap Nabi pada awalnya, tapi dia lalu memaafkannya. Ini karena Safiyah selalu yakin bahwa Muhammad memang adalah Nabi.

Safiyah berakata, “Aku adalah putri kesayangan ayahku dan pamanku. Ketika Rasul Allah datang ke Medinah dan tinggal di Quba, orangtuaku menemuinya pada suatu malam dan setelah itu mereka tampak bingung dan lelah. Aku menyambut mereka dengan girang tapi aku heran karena mereka tidak tampak gembira melihatku. Mereka tampak sedemikian sedih seakan tak sadar akan kehadiranku. Aku mendengar pamanku Abu Yasir berkata pada ayahku, ‘Apakah memang benar orang itu adalah dia?’ Ayah berkata, ‘Ya, demi Allah.’ Pamanku berkata: ‘Dapatkah kau mengenalnya dan yakin akan hal itu?’ Ayah berkata, ‘Ya.’ Pamanku berkata, ‘Bagaimana pendapatmu akan dia?’ Ayah berkata, ‘Demi Allah, aku akan menjadi musuhnya selama aku hidup.’”
(ref. Ibn Hisham, As-Sirah an-Nabawiyyah, vol. 2, hal. 257-258, dikutip dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, hal.162)

Kisah diatas menunjukkan kewaspadaan dan kecerdasan Safiyah. Hal ini juga menunjukkan bahwa umat Yahudi telah mengetahui kenabian sang
Nabi dan telah mengenalnya seperti mereka mengenal anak² mereka. Meskipun demikian, mereka membenci Islam dan Nabi. Kisah ini juga memaparkan kebencian Huyayy terhadap Rasul Allah. Safiyyah tidak mewarisi kebencian ayahnya karena Allah membuat hatinya siap menerima dan beriman pada Islam.
(ref. Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, hal.162-163)

Hadis ini menunjukkan rusaknya jalan pikir para Muslim seperti yang sudah berulang-kali aku katakan dan tunjukkan di bukuku. Mereka semua mewarisi kesintingan Nabi mereka.

Orang narsistik berkhayal bahwa semua orang mengakui kehebatannya dan jika ada yang menentangnya, maka dia menuduh orang itu iri padanya. Hadis di atas merupakan contoh jelas pikiran narsis Muslim.

Jika Huyayy percaya bahwa Muhammad itu Rasul Tuhan mengapa kok dia malahan menentangnya habis²an? Apakah ini masuk akal? Tentu saja hal ini tak masuk akal bagi orang² waras, tapi Muslim yang menderita narsisme menerima saja kejanggalan itu. Narsisme itu adalah penyakit jiwa yang mengakibatkan fungsi otak terganggu, dan mengalami penyimpangan pengertian akan fakta.

Orang² selalu yakin bahwa diri mereka benar, dan orang lain salah. Tidak pernah sebaliknya. Bagaimana mungkin orang bisa menghasilkan argumen yang sedemikian bodoh?

Terlebih lagi, bagaimana mungkin orang² Yahudi di Medinah bisa yakin bahwa Muhammad itu adalah sang Mesiah (Juru Selamat) yang mereka tunggu²? Apa sih bukti yang mereka lihat? Bagaimana mungkin buktinya tidak pernah muncul?

Umat Muslim mengatakan bahwa Muhammad disebut di Kidung Agung 5:16 di Alkitab Perjanjian Lama. Silakan lihat jawabanku atas kebodohan pernyataan mereka itu. Muhammad sama sekali tak disebut dalam Alkitab. Tiada satu pun bukti tentang dia ada di kitab suci berbagai agama manapun sebelum Islam. Dengan demikian, bagaimana ayah dan paman Safiyah bisa mengetahui bahwa Muhammad itu adalah “Nabi yang ditunggu-tunggu”? Yang tampaknya mereka pikir tentang Muhammad adalah dia itu orang jahat. Banyak bukti di Alkitab yang menunjukkan Muhammad itu setan, tapi tak ada satu pun bukti yang bisa membuat kita percaya bahwa Alkitab menyatakan Muhammad adalah nabi yang ditunggu-tunggu umat Yahudi.

Siapapun yang percaya akan cerita bohong ini tentunya orang yang bodotolol. Umat Muslim benci setengah mati akan Baha’u’llah (pemimpin kaum Baha’i). Apakah ada Muslim yang yakin bahwa Baha’u’llah adalah Nabi dan lalu membencinya? Tentu saja tak ada!! Pernyataan seperti itu jelas bertentangan dengan akal, dan hanya Muslim saja yang bisa percaya akan kemustahilan itu. Tunjukkan padaku satu Muslim yang percaya bahwa Baha’u’llah adalah Nabi sejati, tapi tetap menentangnya. Itu jelas tak mungkin, dan merupakan pernyataan tertolol yang bisa dihasilkan seseorang.

Tragedi sebenarnya bukanlah karena Islam itu hanyalah dusta belaka, tapi fakta bahwa Islam telah menghancurkan otak umatnya sedemikian rupa sehingga mereka tak dapat berpikir secara logis. Islam membuat Muslim berpikir dengan penuh prasangka. Fakta jadi tampak jungkir balik bagi mereka. Jika kau seorang Muslim, maka kau hidup dalam dunia yang penuh dengan berbagai cermin cembung dan cekung, seakan dunia ini melengkung tak karuan. Begitu Muslim meninggalkan Islam, maka mereka akan mampu melihat dunia berdasarkan dimensi yang sebenarnya. Bukan hanya pendapat bekas Muslim tersebut yang akan berubah, tapi seluruh pandangannya terhadap dunia dan umat manusia dan juga seluruh orientasi dasar proses berpikir akan berubah pula.

Umat Muslim yakin bahwa semua orang tahu Islam itu benar, tapi mereka tak mau percaya karena rasa iri dan hati mereka rusak. Selain mengira begitu, umat Muslim tidak merasa perlu menunjukkan bukti bahwa Islam itu benar. Bagi Muslim, bukti itu tak perlu, karena menganggap Islam sudah jelas benar. Jika orang lain tak dapat melihatnya, hal ini karena mereka tak mau melihat. Dengan begitu, setiap orang yang tak percaya Islam akan ditindas dan dihina Muslim, dan hak azasinya akan dirampas pula oleh Muslim.

Zawadi mengutip sumber Islam lain:

“Nabi yang akan datang dan yang terakhir dengan jelas telah tertulis dalam Taurat, yang mengandung tanda² yang telah dikenal dengan mudah oleh umat Yahudi,” tapi umat Yahudi tetap saja menolaknya karena dia adalah orang Arab dan mereka mengharapkan orang Yahudi.

Wah, kalau begitu mana nih buktinya? Di bagian Taurat mana Muhammad itu dijabarkan secara tepat sehingga orang² akan bisa mengenalnya dengan mudah?

Dusta merupakan fondasi di mana Islam dibangun. Pernyataan/Klaim ini, sama seperti klaim Muslim lainnya, hanyalah dusta belaka. Ketika Muhammad mengatakan bahwa dirinya disebut dalam Taurat, umat pengikutnya tidak punya Alkitab untuk membaca dan memeriksanya sendiri. Mereka percaya saja apa yang diucapkannya. Hari ini semua orang bisa membaca Alkitab, juga di Internet. Alkitab tersedia di Internet dan dimana pun. Tunjukkan di mana Muhammad disebut dalam Alkitab? Sungguh Muslim tak tahu malu! Jika kau percaya bahwa kehormatanmu akan terjaga dengan cara membunuh anak perempuanmu, maka tentunya kau tak punya rasa malu sama sekali untuk berdusta.

Sifat Safiyah
Penjelasan berikut menunjukkan Safiyah merupakan wanita yang sangat berbakti pada Allah.

Abd Allah ibn Ubaydah berkata, “Sekelompok orang berkumpul di kamar Safiyyah, istri Nabi. Mereka ingat Allah, melafalkan Qur’an, dan lalu bersujud. Safiyyah berkata pada mereka, ‘Kau bersujud dan melafalkan Qur’an tapi dimanakah tangismu (akan rasa takut pada Allah)?”
(ref. Abu Nu’aym al Asbahani, Hilyat al-Awliya‘, vol. 2, hal. 55, dikutip dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, hal.177)

Kisah diatas tidak menunjukkan bahwa Safiyah adalah Muslimah yang sangat berbakti pada Allah. Kejadian itu terjadi setelah Muhammad mati dan Safiyah bukan lagi seorang remaja. Tampaknya dia telah sembuh dari sindrom Stockholm yang dulu dideritanya, dan dia menyindir para Muslim tersebut di kamarnya.

Image
Obama membungkuk pada Raja Saudi (foto atas), sampai² mencium tangan sang Raja segala. Aku sarankan lain kali Obama menyembah dan mencium kakinya sekalian. Apakah saranku ini membuat aku menjadi pemuja Raja Saudi? Yang amat dibutuhkan umat Muslim adalah akal sehat dan kemampuan berpikir logis.

Diambil dari http://www.geocities.com/mutmainaa1/people/safiyah.html

Dia masih mengalami kesukaran setelah kematian Nabi. Suatu kali seorang gadis budak miliknya datang menemui Amir Al Muminin Umar dan berkata, “Amir al Muminin! Safiyyah mencintai hari Sabbath dan tetap mempertahankan hubungan dengan kaum Yahudi!” Umar bertanya pada Safiyyah akan hal ini dan dia menjawab, “Aku tidak mencintai Sabbath sejak Allah menggantinya dengan hari Jum’at bagiku, dan aku hanya mempertahankan hubungan dengan kaum Yahudi yang berhubungan keluarga denganku.” Safiyyah bertanya pada gadis budaknya apa yang mempengaruhinya sehingga dia melaporkan kebohongan pada Umar dan gadis itu menjawab, “Setan!” Safiyyah berkata, “Pergilah, kau bebas.”
Hadis ini menunjukkan bahwa Safiyyah tetap jadi Muslimah taat bahkan setelah Nabi mokat.

Hadis ini justru menunjukkan fakta yang sebenarnya terjadi di balik ucapan² tersebut. Gadis budak Safiyah melihat bahwa Safiyah masih beribadah di hari Sabath (Sabtu) dan berhubungan dengan para budak Yahudi di Medinah. Gadis ini sendiri adalah budak yang malang. Hanya Tuhan yang tahu derita apa yang telah dialaminya. Mungkin dia ditangkap di Iran atau Mesir. Sekarang dia jadi budak dan hidup diantara orang² yang menganggapnya sebagai orang hina. Dia melaporkan apa yang dilihatnya pada Umar, mungkin untuk cari simpati. Apakah yang bisa dikatakan Safiyah ketika dia diinterogasi? Apakah dia bisa melawan Kalifah utama pemimpin umat, yang terkenal dengan adatnya yang bengis, suka main pukul, bahwa dia tidak percaya lagi akan dusta² Muhammad? Wanita itu sudah belajar seni mempertahankan hidup. Dia harus menyembunyikan keyakinannya demi keamanannya. Gadis budak yang sekarang dihadapkan dengan
keadaan dimana pernyataannya dikonfrontasi dengan pernyataan seorang Ummul Mu’min menyadari bahwa jiwanya dalam bahaya sehingga dia menyalahkan Setan yang membuatnya melaporkan hal itu pada Umar. Islam adalah sebuah tragedi. Setiap kisah merupakan tragedi di dalam tragedi. Setiap orang adalah korban. Setan tentunya bangga akan keberhasilannya ini.

Bacalah hadis dengan berpikir secara logis. Kebenaran tidak terdapat pada apa yang tertulis, tapi pada apa yang tersirat. Untuk mengerti hadis, bacalah apa yang tidak tertulis tapi yang tersirat diantara kalimat².

Aku membaca Qur’an dan hadis, buku² yang sama yang dibaca para Muslim. Meskipun demikian aku bisa melihat apa yang tak bisa dilihat Muslim selama 1400 tahun. Hal ini karena aku tidak menelan saja semua bulat². Aku merenungkan dan menganalisa keterangan baik². Semua orang mampu melakukan hal ini. Jika membaca buku apapun, baik buku agama atau bukan, kita harus membaca keterangan secara kritis.

Safiyyah memiliki hubungan hangat dan baik dalam rumah tangga Nabi. Dia memberi Fatimah az-Zahra’ hadiah perhiasan untuk menunjukkan rasa sukanya padanya, dan dia juga memberi istri² Nabi perhiasan² yang dibawanya dari Khaybar.
(ref. Ibn Sa’d, Tabaqat, vol.8, hal.100, dikutip dalam buku tulisan Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, hal.172)

Dengan kata lain, dia mencoba membeli simpati mereka dan mengurangi permusuhan mereka terhadapnya. Peredaan merupakan strategi kaum lemah untuk bisa terus hidup.

Pernikahan Nabi dengan Safiyyah dan Hikmatnya

Tentang tuduhan bahwa Safiyyah dipaksa menikah atau diperkosa, seperti yang ditulis oleh Islamofobik yang terkenal (yagn dimaksudnya tentu aku, Ali Sina, tapi umat Muslim tak mau menulis namaku), pernyataan ini sungguh tak berdasar sama sekali. Sudah diketahui siapapun bahwa Safiyyah (R) tetap setia pada Nabi setelah Nabi wafat.

Ah, masa seeh? Apakah dia menolak menerima pria² yang mengirimnya bunga atau yang menelpon HP-nya? Apakah dia punya pilihan? Jika kau memenjarakan istrimu, kau tidak bisa mengatakan istrimu itu tetap setia padamu. Safiyah tidak punya kemerdekaan di Medinah dan tidak punya tempat lain untuk pergi.

(Keterangan tentang kesetiaan Safiyyah dibenarkan sendiri oleh Nabi dan ditulis oleh Muhammad Husayn Haykal, op. cit., hal. 374, dan tersedia di internet: http://www.bismikaallahuma.org/index.ph … -muhammadp)

Nabi menawarkan pada Safiyah, seperti yang ditulis oleh Martin Lings:

Dia (Muhammad) berkata pada Safiyyah bahwa dia bersedia membebaskannya, dan dia menawarkan padanya pilihan untuk tetap jadi Yahudi dan kembali ke masyarakatnya atau memeluk Islam dan jadi istrinya. “Aku memilih Allah dan RasulNya,” katanya; dan mereka pun menikah di perhentian pertama dalam perjalanan pulang.
(ref. Martin Lings, Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources (George Allen & Unwin, 1983), hal. 269, dikutip dalam http://www.bismikaallahuma.org/index.ph … -muhammadp)

Membebaskannya? Suami Safiyah itu dipancung. Ayah dan pamannya dibunuh. Seluruh sanak keluarga laki, termasuk abang²nya dibantai. Sanak keluarga perempuannya diperbudak Muslim. Kemana dia bisa pergi? Jika dia tak mau menikah dengan Muhammad, maka dia akan jadi budak sex Muslim lainnya.

Pernikahan dengan Safiyyah (R) juga punya makna politik, karena ini mengurangi perseteruan dan menguatkan persekutuan. John L. Esposito menulis bahwa:

Sebagaimana adat para ketua Arab, banyak dari pernikahannya yang bersifat politis demi memperkuat persekutuan. Pernikahan² lainnya adalah dengan para janda sahabatnya yang tewas dalam pertempuran dan para wanita itu butuh perlindungan.
(ref. John L. Esposito, Islam: The Straight Path, hal. 19-20, dikutip dalam http://www.bismikaallahuma.org/index.ph … -muhammadp)

John Esposito telah menjual jiwanya demi uang. Dengan siapakah Muhammad mau memperkuat persekutuan politik melalui ‘pernikahan; dengan Safiyah? Seluruh suku Safiyah SUDAH DIBANTAInya, ayahnya dipancungnya. Setitik pemikiran logis saja sudah mampu membantah pernyataan di atas.

Perbuatan penting menikahi Safiyyah (R) merupakan kehormatan bagi dirinya, karena ini tidak hanya menjaga martabatnya, tapi juga mencegahnya untuk dijadikan budak.

Akhirnya Zawadi menulis keterangan yang aku setujui. Ini persis seperti yang kukatakan di atas. Lihatlah bagaimana si pembela Islam ini mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan apa yang ditulisnya sebelumnya. Awalnya dia menulis bahwa Muhammad menawarkan kebebasan bagi Safiyah. Tapi sekarang dia mengakui bahwa pilihan lain bagi Safiyah adalah jadi budak sex Muslim lainnya.

Haykal menulis bahwa:

Nabi memberinya kemerdekaan dan lalu menikahinya, dan Nabi mengikuti contoh² para penakluk hebat yang menikahi putri² dan istri² para raja yang telah ditaklukkan, sebagian demi mengurangi tragedi yang dialami mereka, dan sebagian demi mempertahankan martabat mereka.
(ref. Muhammad Husayn Haykal, The Life of Muhammad (North American Trust Publications, 1976), p. 373, dikutip dalam http://www.bismikaallahuma.org/index.ph … -muhammadp)

Memang luarbiasa gilanya jalan pikir Islamiah. Bayangkan bagaimana jika perampok menyerbu rumahmu, membunuh dirimu, putra²mu, mengambil putri² dan istri² untuk dijadikan budak dan lalu ngesex dengan putrimu yang sekarang dipanggilnya sebagai istrinya. Usaha apa yang bisa mengurangi tragedi itu atau yang bisa mempertahankan martabatmu?

Cara pikir kacau-balau ini disebabkan fakta bahwa sebenarnya tujuan perbuatan Muslim menyelenggarakan pernikahan adalah memberikan wanita dan keluarganya suatu kehormatan. Bagi Muslim, wanita adalah aurat, atau kemaluan, atau obyek yang memalukan. Hanya jika wanita itu telah menikah, maka kemaluannya ditutupi. Begitu menikah, wanita itu pun halal untuk diperkosa. Menurut syariah, pemaksaan hubungan sexual terhadap istri bukanlah perkosaan.

Dengan menikahi Safiyyah, Nabi bertujuan untuk mengakhiri permusuhan yang dilakukan oleh umat Yahudi terhadapnya dan terhadap Islam, tapi mereka tetap saja membenci Islam dan Nabi karena itu sudah jadi sifat mereka untuk bersifat penuh kebencian dan keras kepala.
(ref. Muhammad M. as-Sawwaf, Zawjat ar-Rasul at-Tahirat wa Hikmat T’adudihinn, hal. 76-79, dikutip dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, hal.168)

Jalan pikir seperti diatas itu sungguh memuakkan. Umat Muslim berharap kaum Yahudi bisa mencintai Muhammad karena dia memperkosa gadis Yahudi Safiyah dan memanggilnya sebagai istrinya. Apakah kaum Yahudi harus melupakan bahwa Muhammad telah membantai seluruh keluarga dan suku Safiyah? Bagaimana mungkin orang bisa begitu terlepas dari realitas? Umat Muslim tidak melihat ada yang salah dengan membunuh kafir dan berharap kafir berterima kasih pada mereka karena mereka memperkosa putri² kafir setelah membacakan ayat² nikah. Bagaimana kita bisa hidup dengan orang² seperti ini? Mereka benar² berasal dari planet lain. Kita para kafir tidak memiliki nilai² kehormatan yang sama.

Sikap Nabi terhadap Safiyyah

Ketika Bilal ibn Rabah (R), sahabat Nabi, membawa Safiyyah bersama dengan wanita Yahudi lainnya melalui mayat² para Yahudi yang dibantai di medan perang, Muhammad menegur Bilal, “Apakah kau tidak punya belas kasihan, Bilal, sehingga kau membawa dua wanita ini melalui suami² mereka yang tewas?”
(ref. A. Guillaume (terjemahan), The Life of Muhammad: A translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah (Oxford University Press, 1978), hal. 515, dikutip dalam http://www.bismikaallahuma.org/index.ph … -muhammadp)

Mari baca keterangan selengkapnya dari Ibn Ishaq, dalam Sirat Rasul Allah:

“Setelah Rasul Allah menaklukkan al-Qamus, benteng milik Ibn Abi al-Huqyaq, Safiyyah bt. Huyayy b. Akhtab dibawa menghadap Nabi, dan juga seorang wanita lain bersamanya. Bilal, yang merupakan salah seorang yang membawa mereka, menuntun mereka melalui mayat² orang Yahudi. Ketika wanita di samping Safiyyah melihat mayat² tersebut, dia menangis keras, memukul wajahnya, dan menyiramkan debu ke kepalanya. Ketika Rasul Allah melihat itu, dia berkata, “Bawa iblis betina ini menjauh dariku!” Nabi memerintahkan Safiyyah ditempatkan di belakang Nabi dan ini berarti Rasul Allah telah memilih Safiyyah baginya.”

Bilal membawa Safiyah dan saudara iparnya menemui Muhammad agar dia bisa memilih salah seorang dari mereka untuk ngesex dengannya di malam hari, tak lama setelah “Pengampunan Allah” SAW baru saja selesai menyiksa Kinanah (suami Safiyyah) sampai mati. Ketika melihat mayat abangnya (Kinanah), adik perempuan Kinanah menangis histeris. Sang Pengampunan Allah menamparnya dan berkata, “Bawa iblis betina ini menjauh dariku.” Kesalahan iblis betina itu tak lain adalah menangis melihat mayat abangnya. Lalu sang Insan Kamil (Manusia Sempurna) SAW menegur Bilal dan berkata, “Apakah kau tak punya belas kasihan, Bilal, sehingga kau membawa dua perempuan ini melihat mayat suami dan abang mereka?”
Image

Adik Kinanah menangis histeris setelah melihat jasad kakaknya yang disiksa dan lalu dibunuh tentara Muhamad
(foto dipinjam dari http://www.searchsikhism.com/gal7.html untuk kepentingan ilustrasi)

Image Image

Wajah dan tubuh Kinanah setelah dihancurkan oleh tentara Muhammad (foto untuk ilustrasi). Setelah melihat jasad Kinanah ini, Safiyah lalu jatuh cinta pada Muhammad????

Image
Sanak keluarga Safiyyah yang tewas ditangan tentara Muhammad (foto untuk ilustrasi)

Image

Begini cara tentara Muhammad menyerang korban mereka (foto untuk ilustrasi)

Begitulah yang dimaksud Muslim ketika mereka bicara tentang belas kasihan Nabi.

Tertulis suatu kejadian di mana Zaynab bint Jahsh dan Safiyyah pergi bersama Nabi dalam sebuah perjalanannya dan unta Safiyyah jatuh sakit. Nabi berkata pada Zaynab, “Unta Safiyyah jatuh sakit, bagaimana jika engkau memberinya satu dari unta²mu?” Dia menjawab, “Aku tak akan pernah memberikan untaku pada wanita Yahudi seperti dia.” Nabi jadi marah padanya dan dia tidak mendekatinya selama dua bulan.
(ref. Ahmad, vol. 6, hal. 336-337, dikutip dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, hal.173)

Apa yang bisa kita pelajari dari hadis ini? Bagi Muslim, yang ada hanyalah seperti yang tertulis saja. Bagi orang yang mampu berpikir kritis, hadis ini menunjukkan bagaimana Safiyah merasa sangat terisolasi diantara para istri Muhammad. Dia melakukan segala cara untuk menarik simpati para musuhnya. Dia memberi mereka hadiah². Dia berpura-pura mencintai Muhammad padahal sudah jelas bagi siapapun, kecuali Muhammad yang narsis, bahwa dia tidak mencintainya. Wanita muda ini punya naluri kuat untuk menyelamatkan nyawanya.

Ya, Muhammad memang dapat ditipu dengan mengira bahwa Safiyah mencintainya. Meskipun cerdik dalam tipu menipu, sebenarnya orang narsis ini sangatlah bodoh. Hanya orang sangat bodoh seperti Muhammad saja yang bisa meminta wanita Yahudi Khaybar (Mariyah) memasak makanan baginya setelah dia membunuhi semua anggota keluarga yang dicintainya. Wanita itu lalu mencoba meracuni Muhammad, tapi sayangnya ketahuan.

Narsisis hidup dalam dunia fantasi. Muhammad mengira dia adalah makhluk istimewa dan siapapun tentunya mencintainya dan hanya orang yang berhati jahat yang tak mencintainya. Umat Muslim menderita penyakit jiwa yang sama seperti yang diderita Nabi mereka. Akan tetapi, realitas sangatlah berbeda. Safiyah hanya berusaha agar tetap bisa mempertahankan hidupnya. Meskipun telah menderita sindrom Stockholm sekalipun, dia tidak lalu jadi begitu bodoh untuk bisa jatuh cinta pada lelaki tua impoten yang telah menghancurkan kehidupannya dan membantai orang² yang dikasihinya.

Nabi selalu memperlakukan Safiyyah dengan penuh hormat, lemah lembut dan kasih sayang. Safiyyah berkata, “Rasul Allah pergi untuk melakukan ibadah haji bersama para istrinya. Dalam perjalanan itu, untaku jatuh berlutut karena dia adalah yang terlemah dari antara unta² lainnya dan aku menangis. Nabi datang padaku dan menyeka airmataku dengan baju dan tangannya. Semakin dia meminta aku berhenti menangis, semakin banyak aku menangis.
(ref. Ahmad, vol.6, hal. 337, Cited in Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, hal.176)

Kisah ini menusuk hati. Jika kau punya hati, maka kau pun akan menangis pula. Letakkan dirimu dalam posisi gadis muda ini. Bayangkan bahwa kau ditangkap dan hidup diantara masyarakat yang membunuh orang² yang kau kasihi. Kau tak bisa pergi kemanapun dan tiada orang yang simpati padamu. Kau dibenci oleh orang² di sekitarmu. Satu²nya orang yang menunjukkan belas kasih adalah orang yang sama yang membunuh bapak dan suami tercinta.

Ketika untanya jatuh sakit, Safiyah menangis. Hatinya tidak bisa lagi menanggung rasa sakit lebih jauh. Dia tentunya tidak menangis sedemikian rupa karena untanya sakit. Dia menangis meratapi hatinya yang kesepian. Usianya saat itu baru 17 atau 18 tahun. Aku meninggalkan negeriku saat usia 16 tahun. Orang tuaku masih hidup dan sehat, dan aku berada diantara para teman yang baik hati. Meskipun begitu aku sangat merasa rindu. Di malam hari aku sering memandang bulan dan berpikir mungkin ibuku tengah memandang bulan yang sama di saat itu dan menangis rindu. Hanya Tuhan yang tahu rasa sakit yang dialami Safiyah. Dia tentu melihat bintang² dan menduga-duga bintang mana yang merupakan jelmaan suami tercintanya, yang mana merupakan jelmaan ayahnya yang sangat mencintainya. Aku hidup diantara teman² sejawatku. Kami melakukan banyak hal yang dilakukan kaum muda untuk bersuka-ria. Safiyah sih sendiri saja. Seorang diri. Ketika Safiyah berkata pada Muhammad saat sekarat di ranjangnya bahwa dia berharap bisa berada di posisi Muhammad, mungkin dia sebenarnya berharap untuk mati saja daripada hidup di bawah tekanan berat seperti itu.

Orang yang telah membuat hidupnya hancur lebur seperti itu ternyata adalah satu²nya orang yang menghapus airmatanya. Sebuah ironi yang sungguh menyedihkan! Bayangkan jika kau tak punya siapapun yang mau menghiburmu di dunia ini kecuali orang yang telah membunuh keluarga tercintamu.

Image
Tangisan Safiyah, tangisan korban Islam

Membaca buku Tabari merupakan pengalaman yang terberat yang pernah kualami. Banyak sekali kejadian menyakitkan di buku tersebut. Tapi kau harus mampu membaca yang tak tertulis diantara kalimat². Kau harus bisa menempatkan dirimu sebagai korban dalam keterangan buku itu. Inilah yang tak mampu dilakukan umat Muslim. Mereka malahan tertawa dan bersorak-sorai atas kemenangan Nabinya. Di bawah pengaruh Islam, derajat Muslim diperendah sampai menjadi makhluk yang sangat jahat, yang tak punya lagi kemanusiaan, empati, dan kasih sayang terhadap korban Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: