Arsip Blog

BUKU: ISLAM MENGGUGAT POLIGAMI (THE ONE N ONLY!!)

Image
buku ini hanya MENOLAK POLIGAMI kaum muslim,tapi tidak menoak POLIGAMI NABI,jadi masih ISLAMI ๐Ÿ™‚

Buku ISLAMI yang sangat luar biasa ini akan sangat berguna bagi kafir untuk Menjawab argumen2 dari pihak muslim sendiri ,antara lain :
– jumlah wanita lebih banyak
– lebih baik poligami daripada selingkuh
– boleh poligami kalau istri mandul

dan beberapa DAMPAK PSIKOLOGIS dari BURUKNYA poligami.

UP COMING…
saat ini, detik ini cewek gw sedang berada di internet (di komputer sebelah) lagi baca thread2 ttg buku Islam di indonesia yg ente posting disini sama MSaw.

gw bilang : “sekarang terbukti kan itu semua bukan fitnahan dan ejek2an dari aku, tapi dari Islam sendiri, lebih baik kamu baca deh buku aslinya yg dijual di toko buku”.

dia yg tadinya ngotot gak terima, sekarang bengong terbelalak.

mudah2an hati nuraninya berbicara dan memberontak.

doain yaa teman2…saat ini nih, detik ini di sebelah gw….

hiks-hiks sedih banget detik2 ini, karena ini baru pertama kalinya dia serius baca. sebelum2nya dia belum pernah baca langsung, cuma denger2 aja..

hiks-hiks…sekali lagi sedih banget gw..sedih.
krekekekeke … sorry baru bisa posting
kita langsung ke BAB III saja,karna ini yang sangat menarik ๐Ÿ™‚

ISI BAB ke III biasanya paling sering DI DENGUNG2KAN oleh KAFIR,NAH kali ini yang MENULISKANNYA adalah seorang MUSLIMAH,jadi muslim2 lain kudu PERHATIIN yah.terutama yang MUSLIMAH negh !

Bab 3
BERBAGAI IMPLIKASI POLIGAMI

A. Implikasi Sosio – Psikologis tcrhadap Perempuan

Poligami pada hakikatnya merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap martabat perempuan. Sebab, mana ada perempuan yang rela dan bersedia dimadu, sebagaimana halnya laki-laki, mana ada yang rela dan bersedia dimadu..

Qasim Amin menggambarkan sosok suami yang memiliki istri banyak tidak ubahnya seperti seekor ayam jantan yang dikelilingi oleh sekumpulan ayam betina. Yang demikian itu adalah alamiah di dunia satwa, tetapi tidak alamiah bagi manusia.

Berbeda dengan manusia, binatang tidak memiliki emosi sehingga poligami di dunia binatang tidak menimbulkan problem psikologis, seperti yang dialami manusia. Karena itu, semakin beradab suatu masyarakat, semakin jarang poligami dijumpai. Konklusinya, semakin tinggi tingkat keberadaban masyarakat, seharusnya semakin ber-kurang jumlah poligami. 1) (lihat Qasim Amin, Tahrir AL-MAhrah, halaman 156-157)

Secara psikologis semua istri akan merasa terganggu dan sakit hati melihat suaminya berhubungan dengan perempuan lain. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa rata-rata istri begitu mengetahui suaminya menikah lagi secara spontan mengalami perasaan depresi, stres berkepanjangan, sedih, dan kecewa bercampur satu, serta benci karena merasa telah dikhianati. Anehnya, perasaan demikian bukan hanya terjadi pada istri pertama, melainkan juga pada istri kedua, ketiga, dan seterusnya.

Umumnya, para istri setelah mengetahui suaminya menikah lagi bingung ke mana harus mengadu. Di samping bingung, mereka juga malu pada tetangga, malu pada teman kerja, malu pada keluarga, bahkan juga malu pada anak-anak. Ada anggapan di masyarakat bahwa persoalan suami-istri merupakan persoalan sangat privat (pribadi) yang tidak patut diceritakan pada orang lain, termasuk pada orangtua.

Akibatnya, istri seringkali menutup-nutupi dan berperilaku seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Fatalnya lagi, tidak sedikit di antara mereka justru menyalahkan diri sendiri dan menganggap diri merekalah yang bersalah. Sikap istri yang tidak mau terbuka itu merupakan bentuk loyalitasnya terhadap keluarga demi menjaga nama baik keluarga, terutama keluarga besarnya, dan juga untuk menghindari stigma dari masyarakat sebagai keluarga yang tidak bahagia.

Akhimya, semua kekesalan dan kesedihan hanya bisa dipendam sendiri yang lambat laun jika tidak diatasi akan menimbulkan berbagai macam gangguan fisik, seperti sulit tidur, sulit makan, sembelit, sariawan dan flu yang berkepanjangan serta gangguan emosional, seperti mudah tersinggung, mudah marah, dan mudah curiga.

Hal demikian disebabkan setidaknya oleh dua alasan, pertama karena rasa cinta istri yang begitu mendalam. Umumnya istri mempercayai dan mencintai suaminya sepenuh hati sehingga dalam dirinya tidak ada lagi ruang untuk cinta terhadap laki-laki lain. Istri selalu berharap suaminya berbuat hal yang sama terhadap dirinya.

Karena itu, istri tidak dapat menerima suaminya membagi cinta pada perempuan lain, bahkan, kalau mungkin setelah mati pun dia tidak rela jika suaminya menikah lagi. Alasan kedua, karena istri merasa inferior atau rendah diri seolah-olah suaminya berbuat demikian lantaran ia tidak mampu memenuhi kepuasan biologisnya. Perasaan inferior itu semakin lama meningkat menjadi problem psikologis yang serius, tetutama kalau mendapat tekanan dari keluarga.

Boleh jadi ditemukan ada perempuan yang sungguh-sungguh rela dan bersedia dimadu, namun kerelaan atau kesediaan dari satu atau segelintir perempuan tidak boleh dijadikan acuan untuk menggeneralisasikan, apalagi untuk memaksakan seluruh perempuan dapat menerima hal yang sama.

Sebagaimana telah diuraikan pada bab terdahulu tentang mengapa ada istri yang bertahan dalam perkawinan poligami atau mengapa ada saja perempuan yang bersedia dinikahi oleh suami yang beristri dapat di-simpulkan bahwa kondisi itu terjadi apabila perempuan memandang atau menempatkan dirinya semata-mata sebagai objek atau se-derajat dengan harta milik suami, bukan melihat dirinya sebagai subjek atau individu yang merdeka yang memiliki seperangkat hak. Perempuan belum memandang posisi dirinya setara dan sederajat dengan laki-laki. Dengan demikian, penerimaan dan penolakan poligami oleh perempuan sangat tergantung pada seperti apa dia memandang dirinya.

Perempuan menerima poligami jika dia memandang dirinya hanya subordinat atau sekadar sebagai objek. Sebaliknya, perempuan menolak poligami jika dia memposisikan dirinya setara dan sederajat dengan laki-laki. Dalam konteks inilah pentingnya upaya pemberdayaan perempuan agar dapat mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan menjadi sederajat dengan saudara mereka yang laki-laki.

Perempuan perlu diberdayakan agar mereka memahami hak-haknya dengan baik dan sekaligus mampu melaksanakan kewajibannya dengan sempurna. Semakin berdaya seorang perempuan akan semakin tinggi kemampuannya untuk memilih mana jalan terbaik dalam hidupnya. Arah kehidupannya akan ditentukan sendiri berdasarkan pilihan bebasnya sesuai dengan keyakinan agama-nya, bukan dipilihkan atau didiktekan oleh orangtuanya atau oleh keluarga dan ling-kungan di mana dia berada.

Perempuan hendaknya diajarkan bahwa dirinya adalah manusia seutuhnya sama dengan laki-laki. Sebagai manusia, perempuan harus mandiri dan bertanggung jawab. Seluruh perbuatannya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta. Inilah yang membedakan manusia dari satwa. Karena itu, seluruh tindakan dan perbuatan harus dipilih dengan sadar dan bertanggung jawab. Perempuan tidak boleh tinggal diam dan berpasrah pada nasib. Perempuan harus mengerti dan memperjuangkan hak-haknya. Perempuan harus sadar bahwa setiap orang harus mempertanggungjawabkan sendiri amal perbuatannya di hari kemudian, tidak ada alasan karena dipaksa orang tua atau karena alasan lain.

Manusia, laki-laki dan perempuan telah dibekali Allah Swt. dgn seperangkat alat yang memungkinkan dirinya menjadi manusia yang bertanggung jawab. Alat yang dimaksud adalah pancaindera, intuisi, akal dan hidayah agama. Dengan keempat alat tersebut, manusia: laki-laki dan perempuan diharapkan dapat memilih jalan terbaik bagi dirinya menuju kesempurnaan yang tak terbatas.

Problem psikologis lainnya adalah dalam bentuk konflik internal dalam keluarga, baik di antara sesama istri, antara istrl dan anak tiri atau di antara anak-anak yang berlainan ibu. Ada rasa persaingan yang tidak sehat di antara istri.

Permusuhan di antara istri diistilahkan oleh Faruk dengan women wotneni lupus2. Istilah itu disimpulkan dari pengalaman pribadinya sendiri. la melihat dan mengalami secara langsung permusuhan antara ibu kandung dan para ibu tirinya (istri-istri bapaknya). Pengalamannya menunjukkan betapa kuat konflik yang terjadi di antara para istri, dan perempuan yang kuat akan mengalahkan perempuan yang lemah. Padahal pertarungan di antara mereka sesungguhnya hanyalah untuk memperebutkan perhatian lebih banyak dari suami.

Yang menarik bahwa berbagai aktivitas yang dilakukan para istri sama sekali tidak menunjukkan fungsinya sebagai subjek dari perempuan itu sendiri, melainkan berjuang untuk menjadi objek bagi laki-laki. Mereka berupaya sedemikian rupa untuk menjadi paling menarik, paling baik, dan paling menarik perhatian laki-laki, dalam hal ini suaminya.

Yang lebih menyedihkan bahwa konflik-konflik psikologis di antara istri membuat perempuan menjadi makhluk pemangsa yang bersedia melakukan apa saja, terutama jika kadar keimanannya kurang, demi bertahan hidup dalam tatanan yang diciptakan laki-laki. Musuh mereka jadinya bukan laki-laki yang menindas hak-hak mereka, tetapi sesama perempuan.

Fenomena ini menyimpulkan bahwa posisi subordinat perempuan terhadap laki-laki, justru dilanggengkan oleh perempuan itu sendiri. Kaum perempuan masih sulit untuk lepas dari posisinya sebagai objek karena kentalnya nilai-nilai patriarki dalam masyarakat. Permusuhan antar istri terjadi karena suami biasanya lebih memperhatikan istri muda ketimbang istri lainnya. Bahkan, tidak jarang setelah menikah, suami menelantarkan istri lainnya dan anak-anaknya. Suami putus hubungan dengan istri dan anak-anaknya. Untung kalau sang istri punya penghasilan yang dapat menutupi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya, kalau tidak, mereka akan menjadi beban keluarga atau masyarakatnya. Tentu ini lambat laun akan menimbulkan problem sosial yang serius di masyarakat.

Karena suami menikah lagi, hubungan baik dan harmonis istri dengan keluarga besar suami menjadi terganggu, demikian sebaliknya, hubungan suami dengan keluarga besar istri juga terganggu. Perkawinan pada esensinya menyambung ikatan antara dua keluarga besar, poligami membuat ikatan itu terganggu, bahkan mungkin terputus.

Perkawinan poligami juga membawa dampak buruk bagi perkembangan jiwa anak, terutama bagi anak perempuan. Penelitian yang dilakukan Mudhofar Badri mengungkapkan temuan yang memprihatinkan sbb. Perkawinan poligami menimbulkan beban psikologis yang berat bagi anak-anak. Anak malu ketika ayahnya diju-luki “tukang kawin”, sehingga timbul rasa minder dan menghindar bergaul dengan teman sebayanya. Bagi anak perempuan biasanya sulit bergaul dengan teman laki-lakinya.3)

Kebanyakan dari anak-anak yang ayahnya berpoligami lalu mencari pelarian lain, seperti narkoba, pergaulan bebas dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena mereka kurang mendapatkan perhatian dari orangtua, terutama ayahnya yang harus rnembagi waktu untuk istri lain, atau malah sama sekali ia tidak ada komunikasi lagi dengan anaknya.

Akibat lanjut dari tekanan psikologis bagi anak tersebut adalah melemahnya kondisi fisik sehingga mereka mudah terserang berbagai penyakit. Seluruh paparan mengenai konflik, baik antara istri dan istri, antara istri dan anak tiri maupun antara anak dan anak yang terjadi dalam perkawinan poligami membawa kepada kesimpulan bahwa perkawinan poligami sangat jauh dari prinsip perkawinan yang diidealkan Islam, yakni penuh mawaddah <wa rahmah, sarat dengan tuturan dan sikap yang sopan dan santun, dilimpahi dengan keharmonisan, kedamaian dan kebahagian yang dirasakan oleh seluruh anggota ke-luarga.

Read the rest of this entry